Close Menu
abdulmanan.netabdulmanan.net
  • Beranda
  • About
  • Reportase
  • Artikel
  • Spy Stories
  • Publikasi
Facebook X (Twitter) Instagram
10 December 2025
abdulmanan.netabdulmanan.net
Facebook X (Twitter) Instagram
  • Beranda
  • About
  • Reportase
  • Artikel
  • Spy Stories
  • Publikasi
abdulmanan.netabdulmanan.net
Home»Dari Balik Gedung Minim Jendela

Dari Balik Gedung Minim Jendela

Abdul Manan26 August 2018
Default Image
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

BANGUNAN 20 lantai berbentuk kubus dengan jendela-jendela sempit itu tegak di 4211 Bryan Street, Distrik Old East, Dallas. Kantor AT&T, perusahaan telekomunikasi terkemuka Amerika Serikat, yang hanya punya satu pintu masuk dan beberapa jendela itu termasuk gedung tertinggi di kawasan tersebut.
Di gedung itulah Badan Keamanan Nasional (NSA), lembaga intelijen persinyalan Amerika Serikat, mengintai kegiatan berinternet orang-orang di seluruh dunia. Program bernama sandi Fairview itu dimulai pada 2003 dan dibongkar Edward Snowden, ahli teknologi informasi yang dikontrak NSA, pada 2015.

Dua wartawan The Intercept, media investigasi yang mendapat ribuan dokumen bocoran Snowden, melacak pusat-pusat pengintaian NSA. Akhir Juni lalu, mereka mengidentifikasi delapan gedung AT&T yang menjadi pusat kegiatan NSA. Fasilitas itu berada di Atlanta, Chicago, Dallas, Los Angeles, New York, San Francisco, Seattle, dan Washington, DC. ”Setumpuk bukti menunjukkan bahwa bangunan tersebut merupakan pusat dari inisiatif pengintaian NSA, yang bertahun-tahun memantau miliaran surat elektronik, panggilan telepon, dan obrolan online yang melintasi Amerika,” tulis The Intercept.

Temuan ini cukup mengejutkan bagi pembela kebebasan sipil. Elizabeth Goitein, Wakil Direktur Program Keamanan dan Kebebasan Nasional di Brennan Center for Justice, menyebutkan laporan The Intercept itu telah membuka mata atas ”fakta yang tidak menggembirakan” karena terjadi di ”halaman belakang rumah sendiri”.

Berbeda dengan operasi rahasia lain, dalam Fairview, NSA hanya bekerja sama dengan AT&T. Menurut The Intercept, perusahaan itu memiliki jaringan besar sehingga sering digunakan oleh operator lain untuk mengangkut data kebutuhan pelanggan mereka. Rekanan itu termasuk raksasa telekomunikasi Sprint, Cogent Communications, dan Level 3 serta perusahaan asing Telia (Swedia), Tata Communications (India), Italia Telecom (Italia), dan Deutsche Telekom (Jerman).

Dengan mengintai di delapan fasilitas tersebut, kata mantan teknisi AT&T, Mark Klein, NSA tidak hanya mengumpulkan data pelanggan dari perusahaan telekomunikasi yang bermarkas di Dallas itu, tapi juga ”mendapatkan semua data yang dipertukarkan antara jaringan AT&T dan perusahaan lain”. Klein menyebutnya sebagai ”titik efisien pengintaian di Internet”.

Sebanyak 99 persen lalu lintas Internet antarbenua dunia disalurkan melalui ratusan kabel serat optik raksasa bawah laut. Sebagian besar data itu melintasi Amerika karena lokasinya yang strategis: di antara Eropa, Timur Tengah, dan Asia. Selain itu, perusahaan Internet Amerika unggul dalam memberikan layanan global. NSA, dalam dokumen rahasianya, menyebut hal itu sebagai keuntungan geografis. ”Panggilan telepon, surat elektronik, atau obrolan target akan mengambil jalur termurah, bukan jalur yang secara fisik paling langsung,” tulis NSA.

Setiba di Amerika, data itu diproses oleh perusahaan setempat. Itulah sebabnya NSA memerlukan AT&T, perusahaan yang hingga Maret lalu menangani data e-mail, panggilan telepon, dan obrolan Internet sekitar 197 juta gigabita setiap hari. Jumlah itu sebanding dengan sekitar 49 triliun halaman teks atau 60 miliar file musik MP3.

Juru bicara NSA, Christopher Augustine, menyatakan tidak dapat mengkonfirmasi ataupun menyangkal peran lembaganya dalam dugaan kegiatan intelijen rahasia. Ia menolak menjawab pertanyaan tentang fasilitas AT&T. Tapi ia menyatakan NSA ”melaksanakan misi intelijen sinyal terhadap pihak asing di bawah otoritas hukum yang ditetapkan Kongres dan terikat oleh kebijakan serta hukum untuk melindungi privasi dan kebebasan sipil orang Amerika”.

ABDUL MANAN (THE INTERCEPT, NEW YORK TIMES)

Majalah Tempo, 26 Agustus 2018

Amerika Serikat National Security Agency (NSA) penyadapan
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Email WhatsApp

Related Posts

Ambisi Sang Putri Saudi

29 July 2019

Geliat Haiphong di Tengah Perang

7 July 2019

Bahri Tak Mampir di Le Havre

3 June 2019

Jeanne, Agen Perempuan CIA Penangkap Mata-mata

30 April 2019

Jack Barsky dan Kisah Pembelotannya dari KGB

27 April 2019

Proyek Azorian CIA dan Pencurian Kapal Selam Uni Sovyet

3 April 2019
Add A Comment
Leave A Reply Cancel Reply

About
About

Memulai karir sebagai koresponden Majalah D&R di Surabaya pada 1996 sampai 1999. Setelah itu menjadi editor Harian Nusa, Denpasar (1999-2001), bergabung ke Tempo sejak 2001 sampai sekarang.

Facebook X (Twitter) Instagram
Artikel Populer

Cek Palsu di Manhattan

25 September 2007

Bebas Memilih di Bilik Wartel

24 April 2007

Halo-halo dari Penjara

8 September 2008
Arsip
Artikel Lainnya

Korea Selatan Luncurkan Satelit Mata-mata ke-4 untuk Awasi Korea Utara

26 April 2025

Mantan Manajer Petronas Didakwa dengan Spionase Bisnis

24 April 2025

Protes AP ke Gedung Putih dan Isu Amandemen Pertama

15 February 2025
Label
Al-Qaeda Alexander Litvinenko Amerika Serikat Arab Saudi Barack Obama Barisan Nasional Biro Penyelidik Federal (FBI) AS Central Intelligence Agency (CIA) CIA Cina Donald Trump Edward Snowden Federasi Rusia GCHQ Greenpeace Hamas Indonesia Inggris Iran Israel Jerman Joko Widodo Journalism KGB Korea Selatan Korea Utara Mahatir Mohamad Malaysia Mossad Najib Razak National Security Agency (NSA) Osama bin Laden Pakatan Harapan Pakistan Palestina Politics Rusia Secret Intelligence Service (MI6) Security Service Inggris (MI5) Serangan 11 September 2001 spionase Uni Eropa Uni Sovyet US Navy SEALs Vladimir Putin
© 2025 abdulmanan.net | blog personal abdul manan

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.