Close Menu
abdulmanan.netabdulmanan.net
  • Beranda
  • About
  • Reportase
  • Artikel
  • Spy Stories
  • Publikasi
Facebook X (Twitter) Instagram
2 June 2026
abdulmanan.netabdulmanan.net
Facebook X (Twitter) Instagram
  • Beranda
  • About
  • Reportase
  • Artikel
  • Spy Stories
  • Publikasi
abdulmanan.netabdulmanan.net
Home»Reportase»Bola Salju Mengobati Luka

Bola Salju Mengobati Luka

Abdul Manan11 May 2003
Default Image
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email
Keluarga korban Peristiwa 1965 merintis rekonsiliasi. Akan mengundang keluarga Soeharto dan keluarga D.N. Aidit.

GUNDAH dan getir menyesak dada Sugiharto pada suatu malam, 1994. Tanpa sengaja ia mendengar Mohammad Yasser Fito Anugerah, anaknya yang duduk di kelas V SD, menghafalkan nama-nama pahlawan revolusi, kemudian beberapa nama anggota Dewan Revolusi–yang berada di pihak berseberangan. Yasser, 11 tahun ketika itu, terlalu kecil untuk tahu: satu di antara nama anggota Dewan Revolusi yang dibacanya, Brigjen Supardjo, adalah kakeknya sendiri.

Sugiharto adalah anak ketiga–dari 12 bersaudara–Supardjo. Pria yang kini berumur 50 tahun itu akhirnya membeberkan sejarah keluarganya kepada Yasser, 21 tahun, dan satu anaknya yang lain, Mohammad Hamzah Harlo Ortega, 16 tahun, setelah keduanya duduk di bangku SMA. Terutama tentang kakek mereka, yang dijuluki “Jenderal Merah” dan dicatat sebagai pengkhianat oleh sejarah Orde Baru. “Pikiran saya waktu itu, jangan sampai ini menjadi dendam,” katanya tertegun.

Dendam memang bukan sesuatu yang mustahil di tengah tekanan diskriminatif yang harus ditanggungnya. Lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti, Jakarta, ini misalnya tak kunjung bisa berpraktek sebagai dokter, akibat “dosa politik” ayahnya. Ia lalu berbisnis untuk menghidupi keluarga. Istrinya, Yulia Noor Soraya, adalah putri mantan Menteri Agama, Saefuddin Zuhri.

Lama ia memendam pikiran tentang “mengobati luka lama” itu, sampai suatu ketika Pemuda Panca Marga, organisasi anak-anak veteran, mempertemukannya dengan Nani Nurachman Sutoyo, adik Letjen (Purn.) Agus Widjojo. Nani dan Agus adalah anak pahlawan revolusi Mayjen Sutoyo. Dalam pertemuan di Hotel Dharmawangsa, Jakarta Selatan, pada akhir 1998 itu Sugiharto menyadari, ide mempertemukan keluarga korban Peristiwa 1965 juga dirasakan Nani.

Setelah itu, pertemuan demi pertemuan digelar. Keduanya juga pernah diundang ke Istana, pada Mei 1999, semasa Abdurrahman Wahid menjadi presiden. Kepada Gus Dur mereka menyampaikan ide mempertemukan keluarga korban politik masa lalu ini. “Waktu itu Gus Dur bilang, teruskan,” kata Sugiharto. Pertemuan yang terbilang “besar” dan agak formal pun akhirnya terjadi di Restoran Pulau Dua, Jakarta Selatan, 7 April lalu.

Dalam pertemuan itu yang datang tak hanya keluarga eks Peristiwa 1965. Hadir juga Sudjono Kartosuwiryo, putra bungsu almarhum Sekar Madji Kartosuwiryo, pemimpin Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) Jawa Barat, cucu almarhum Tengku Daud Beureueh, pemimpin DI/TII Aceh, dan Yap Hong Gie, putra Yap Thiam Hien, pengacara terkenal yang sangat kritis pada rezim Orde Baru.

Di situ Nani Nurachman Sutoyo menjelaskan keberadaan Yayasan Kerti Mahayana, yang berdiri pada 2000, untuk ikut menangani masalah orang-orang yang mengidap trauma dan mengalami diskriminasi akibat konflik politik masa lalu. Nani juga mengharapkan pemerintah ikut menghentikan hukuman terus-menerus terhadap para korban ini. “Indah sekali idenya,” kata Hardoyo, bekas Ketua Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI), organisasi mahasiswa PKI, yang ikut dalam pertemuan.

Hardoyo, yang tercatat sebagai anggota Dewan Revolusi, pernah ditahan di Rumah Tahanan Salemba dan Nirbaya selama 13 tahun. Dia berharap pemerintah mendukung gerakan semacam ini, sehingga bisa menjadi gerakan rekonsiliasi nasional. Tapi, “Sepertinya perhatian pemerintah dalam soal hak asasi manusia sangat rendah,” kata pria 69 tahun itu.

Rendahnya perhatian tak membuat Suryo Susilo, aktivis Pemuda Panca Marga, satu di antara fasilitator pertemuan, kehabisan gairah. Menurut dia, harus dibuat wadah agar para anggota keluarga itu bisa melakukan silaturahmi. “Supaya yang terjadi pada orang tua mereka tidak diteruskan oleh anak cucunya menjadi dendam sejarah,” katanya. Pada pertemuan bulan ini, ada rencana mengundang keluarga Jenderal Soeharto dan keluarga D.N. Aidit, ketua CC PKI. Kata Sugiharto, “Saya berharap ini seperti bola salju yang terus membesar.”

Abdul Manan

TEMPO Edisi 030511-010/Hal. 40 Rubrik Nasional

Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Email WhatsApp

Related Posts

Manis-Pahit Budi Daya Keramba Jaring Apung

27 October 2024

Kenangan Pudar di Danau Maninjau

27 October 2024

Havana Syndrome Operasi Unit 29155 GRU Rusia?

3 April 2024

Jenderal Dudung soal Kebijakan TNI AD, Papua dan Revisi UU TNI

22 May 2023

Surya Paloh soal Panas Dingin Hubungannya dengan Jokowi

15 May 2023

Sukidi soal Al Quran, Akal dan Campur Tangan Negara

17 April 2023
Add A Comment
Leave A Reply Cancel Reply

About
About

Memulai karir sebagai koresponden Majalah D&R di Surabaya pada 1996 sampai 1999. Setelah itu menjadi editor Harian Nusa, Denpasar (1999-2001), bergabung ke Tempo sejak 2001 sampai sekarang.

Facebook X (Twitter) Instagram
Artikel Populer

Cek Palsu di Manhattan

25 September 2007

Bebas Memilih di Bilik Wartel

24 April 2007

Halo-halo dari Penjara

8 September 2008
Arsip
Artikel Lainnya

Iran Eksekusi ‘Agen Mossad’ yang Terlibat 200 Misi Pengintaian

24 December 2025

Makna Serial TV Seventeen Moments of Spring bagi SVR Rusia

22 December 2025

Blaise Metreweli, Perempuan Pertama yang Memimpin MI6

19 December 2025
Label
Al-Qaeda Alexander Litvinenko Amerika Serikat Arab Saudi Barack Obama Barisan Nasional Biro Penyelidik Federal (FBI) AS Central Intelligence Agency (CIA) CIA Cina Donald Trump Edward Snowden Federasi Rusia GCHQ Hamas Inggris Iran Israel Jerman Joko Widodo Journalism KGB Korea Selatan Korea Utara Mahatir Mohamad Malaysia Mossad Najib Razak National Security Agency (NSA) Osama bin Laden Pakatan Harapan Pakistan Palestina Politics Rusia Secret Intelligence Service (MI6) Security Service Inggris (MI5) Serangan 11 September 2001 spionase Uni Eropa Uni Sovyet US Navy SEALs Vladimir Putin whistleblower Wikileaks
© 2026 abdulmanan.net | blog personal abdul manan

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.