Close Menu
abdulmanan.netabdulmanan.net
  • Beranda
  • About
  • Reportase
  • Artikel
  • Spy Stories
  • Publikasi
Facebook X (Twitter) Instagram
1 June 2026
abdulmanan.netabdulmanan.net
Facebook X (Twitter) Instagram
  • Beranda
  • About
  • Reportase
  • Artikel
  • Spy Stories
  • Publikasi
abdulmanan.netabdulmanan.net
Home»Reportase»Akar Konflik Massa NU Ja-Tim

Akar Konflik Massa NU Ja-Tim

Abdul Manan25 May 1999
Default Image
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email
APAKAH NU punya anak kandung berupa partai politik? Kalau punya, apa? PKB semata wayangkah? Jika ya, bagaimana status partai lain yang juga berpanjikan NU? Itulah sederet pertanyaan yang kalau salahsalah menjawab berpotensi mengobarkan pergesekan keras dalam musim kampanye sekarang.

Di Jawa Timur (Ja-Tim) sendiri, yang selama ini merupakan basis utama NU, gesekan itu semakin terasa. Dan yang paling tampak adalah atara PKB dan PPP. Persoalan utama antara PKB dan PPP di Ja-Tim adalah adanya upaya PKB untuk menarik kembali umat NU yang sejak penyederhanaan partai pada tahun 1973 bergabung dengan partai yang kini dipimpin Hamzah Haz itu. Adapun pangkal masalah PKB dengan tiga partai lain yang berbasiskan massa NU juga–PNU, PKU, dan Partai SUNI–kurang lebih serupa.

Klaim sebagai representasi tunggal ini menurut kubu PKB sangat berdasar. Seperti kata Hasyim Muzadi, Ketua Pengurus Wilayah NU Ja-Tim, yang mendukung kelahiran PKB banyak dari pengurus NU. Selain itu, PKB dilahirkan oleh struktur NU dari pengurus besar sampai ranting bawah. “Dengan demikian, amat wajar jika pengurus mendukung. Akan halnya partaiyang lain, mereka lahir sendiri, tanpa membicarakan dengan NU, serta tak jelas visinya,” katanya.

Klaim tadi tak jadi masalah besar seandainya perlakuan pengurus NU tetap adil terhadap semua partai yang merangkul umat mereka. Kenyataannya yang terjadi kemudian, menurut Sekretaris PKU Ja-Tim Muhammad Dong, adalah penganakemasan dan penganaktirian. Yang menjadi anak emas PKB. Padahal, ucap dia, klaim PKB sebagai wadah orang NU salah. Karena, itu bukan kepuusan muktamar, tapi keputusan Pengurus Besar NU.

Pada saat pembentukan PKB, kata Muhammad Dong, orang yang sekarang mendirikan PKU dan PNU juga hadir dan menyetujui rencana pendirian partai haru. Hanya, setelah mereka menyampaikan agar akidah organisasi PKB adalah Islam menurut ahlussunah waljamaah, mereka yang di PKB tidak mau. Ini menimbulkan ketidak puasan. Karena itu, lahirlah PNU, PKU, dan sebagainya. “Itu untuk menampung aspirasi umat yang tidak setuju dengan PKB,” ucap Muhammad Dong.

Muhammad Dong menilai, Pengurus Besar NU sudah dieksploitasi oleh PKB. Padahal, Khitah 1926 menegaskan NU tidak akan menjadi partai politik. “Ini kan keputusan muktamar,” tutur dia sembari mengingatkan bahwa perpecahan sekarang sangat prinsipiil atau ideologis.

Syumili Sadli, Ketua Dewan Pimpinan Wilayah PPP Ja-Tim, juga menyebut mestinya NU tidak mendukung satu partai tertentu. Sebab, sejak tahun 1984, NU sudah kembali ke Khitah 1926. Syumili mengingatkan, kembali ke khitah-lah yang kemudian memunculkan slogan”NU itu tidak ke mana-mana, tapi ada di mana-mana.”

Syumili tak mengingkari PKB dibidani NU. “Kalau membidani, itu bisa siapa saja. Beda dengan yang melahirkan. Kalau dilahirkan, itu ada hubungan nasab (darah). Dengan begitu, sebenarnya, tidak boleh orang NU diarahkan ke PKB,” ujarnya.

Lalu, apa jawaban PKB terhadap sekeranjang kritik tadi? Fuad Amin Imron, Wakil Ketua PKB, mengatakan partai selain PKB tidak pantas merasa dianaktirik;. “Bukan anaknya, kok, merasa dianaktirikan?” ucap Fuad Amin. Dia juga tidak setuju kalau dikatakan NU melakukan politik belah bambu: yang satu diangkat, yang lain diinjak. “Mereka keluar sendiri, menyebal,” ujarnya.

Soal itu bukan keputusan muktamar, Fuad Amin mengatakan, jika menunggu muktamar, pasti tidak bisa ikut pemilihan umum sebab muktamar lima tahun sekali. Konflik ini, kata Fuad, kembali ke soal pribadi. “Masalahnya bukan perbedaan akidah. Mereka hanya ingin menjadi sopir, sekalipun kudanya–maaf–enggak benar,” katanya. Jadi, tegas Fuad, ini hanya kepentingan gengsi: ingin jadi sopir.

Has/Laporan Abdul Manan (Surabaya)

D&R, Edisi 990524-041/Hal. 22 Rubrik Liputan Utama

Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Email WhatsApp

Related Posts

Manis-Pahit Budi Daya Keramba Jaring Apung

27 October 2024

Kenangan Pudar di Danau Maninjau

27 October 2024

Havana Syndrome Operasi Unit 29155 GRU Rusia?

3 April 2024

Jenderal Dudung soal Kebijakan TNI AD, Papua dan Revisi UU TNI

22 May 2023

Surya Paloh soal Panas Dingin Hubungannya dengan Jokowi

15 May 2023

Sukidi soal Al Quran, Akal dan Campur Tangan Negara

17 April 2023
Add A Comment
Leave A Reply Cancel Reply

About
About

Memulai karir sebagai koresponden Majalah D&R di Surabaya pada 1996 sampai 1999. Setelah itu menjadi editor Harian Nusa, Denpasar (1999-2001), bergabung ke Tempo sejak 2001 sampai sekarang.

Facebook X (Twitter) Instagram
Artikel Populer

Cek Palsu di Manhattan

25 September 2007

Bebas Memilih di Bilik Wartel

24 April 2007

Halo-halo dari Penjara

8 September 2008
Arsip
Artikel Lainnya

Iran Eksekusi ‘Agen Mossad’ yang Terlibat 200 Misi Pengintaian

24 December 2025

Makna Serial TV Seventeen Moments of Spring bagi SVR Rusia

22 December 2025

Blaise Metreweli, Perempuan Pertama yang Memimpin MI6

19 December 2025
Label
Al-Qaeda Alexander Litvinenko Amerika Serikat Arab Saudi Barack Obama Barisan Nasional Biro Penyelidik Federal (FBI) AS Central Intelligence Agency (CIA) CIA Cina Donald Trump Edward Snowden Federasi Rusia GCHQ Hamas Inggris Iran Israel Jerman Joko Widodo Journalism KGB Korea Selatan Korea Utara Mahatir Mohamad Malaysia Mossad Najib Razak National Security Agency (NSA) Osama bin Laden Pakatan Harapan Pakistan Palestina Politics Rusia Secret Intelligence Service (MI6) Security Service Inggris (MI5) Serangan 11 September 2001 spionase Uni Eropa Uni Sovyet US Navy SEALs Vladimir Putin whistleblower Wikileaks
© 2026 abdulmanan.net | blog personal abdul manan

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.