Close Menu
abdulmanan.netabdulmanan.net
  • Beranda
  • About
  • Reportase
  • Artikel
  • Spy Stories
  • Publikasi
Facebook X (Twitter) Instagram
17 January 2026
abdulmanan.netabdulmanan.net
Facebook X (Twitter) Instagram
  • Beranda
  • About
  • Reportase
  • Artikel
  • Spy Stories
  • Publikasi
abdulmanan.netabdulmanan.net
Home»Satgas Purnawirawan ala Megawati

Satgas Purnawirawan ala Megawati

Abdul Manan22 March 1997
Default Image
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email
Purnawirawan ABRI jadi Satgas PDI? Kenapa tidak? Itulah yang dilakukan oleh DPD PDI Jatim.

MESKI sudah tak menyandang senjata, aksi-aksi purnawirawan tetap saja mengundang perhatian, apalagi kalau para pensiunan itu bikin aksi yang kurang berkenan di hati pemerintah. Sebut saja aksi Pernyataan Keprihatinan 1 Juli yang dilontarkan beberapa mantan perwira tinggi ABRI, beberapa waktu lalu. Aksi yang mengkritik kondisi sosial-politik negara itu sempat membuat petinggi-petinggi ABRI risi.

Kini, dalam lingkup yang lebih kecil, ada lagi aksi purnawirawan di Jawa Timur (Jatim). Beberapa purnawirawan memelopori pembentukan satuan tugas (satgas) di DPD PDI Jatim kubu Megawati Soekarnoputri. Satgas purnawirawan itu akan melengkapi Satgas PDI yang sudah ada. “Sebelumnya, PDI memang sudah memiliki satgas, sedangkan para purnawirawan bermaksud memantapkan organisasi yang telah ada,” kata Sucipto, Ketua DPD PDI Jatim kubu Megawati.

Mereka dimotori Susilo Muslim yang pensiunan Pasukan Gerak Cepat Halim Perdanakusuma dan Yudi Firmansyah yang mantan marinir. “Mereka itu nantinya akan melatih anggota Satgas PDI Jatim,” kata Sucipto.

Muslim yang soekarnois itu adalah salah satu di antara 124 orang aktivis PDI yang ditangkap dan dijebloskan ke penjara ketika mempertahankan kantor DPP PDI pada 27 Juli lalu. Mayor angkatan udara berusia 63 tahun itu sudah sejak tahun 1977 aktif di PDI. Ia pernah jadi juru kampanye, pernah juga jadi komisaris PDI di kabupaten.

Akan halnyaYudi, 58 tahun, baru mencemplungkan diri dalam PDI setelah dua keponakannya menjadi korban (satu meninggal, satu luka parah) dalam penyerbuan kantor DPP PDI itu. Sejak itu, bapak dari tujuh anak asal Jambi tersebut sering muncul dalam kegiatan DPD PDI kubu Mega. Ia, misalnya, terlihat sibuk mengamankan massa dalam aksi demo memprotes Panitia Pemilihan Daerah yang tak memproses daftar calon anggota legislatif dari Mega, awal Januari lalu.

Sudah dapat diduga, apa pun langkah PDI kubu Megawati kerap dihambat aparat keamanan dengan alasan legalitas. Bahkan, konon, Yudi dipanggil oleh Mabes ABRI. Aparat ingin mengetahui maksudnya membenahi Satgas PDI. Apalagi, pensiunan marinir tersebut juga berencana memiripkan struktur satgas dengan ABRI, seperti memakai batalyon. Tapi, rencana terakhir itu kemudian dibantah Sucipto.

Rencana pembenahan Satgas PDI harus dilakukan karena organisasi itu porak-poranda akibat perpecahan PDI, yang diperjelas dengan Kongres Medan dan berpuncak pada Insiden 27 Juli 1996. Padahal, satgas di PDI, seperti juga di PPP, memang sudah merupakan perangkat wajib. Tugas pasukan yang berseragam ala tentara tersebut adalah mengamankan setiap acara partai sekaligus para pimpinannya. Karena organisasi PDI menjadi berantakan, satgasnya pun ikut lintang-pukang. Akibatnya, beberapa acara DPD PDI Jatim menjadi terganggu.

Hal yang paling mengganggu, menurut Sucipto, adalah terjadinya penyusupan pada tubuh PDI kubu Megawati, yang dapat merusak citra. Itu misalnya terjadi ketika kader PDI Jatim kubu Mega melakukan demo memprotes pelantikan pengurus DPD PDI pro- Soerjadi, akhir Desember lalu. Pada saat itu, ada beberapa kader PDI kubu Mega yang ditangkap aparat karena dituduh melempari aparat keamanan dengan batu. “Padahal, kader kami tidak ada yang melakukan pelemparan. Itu penyusupan,” kata Sucipto.

Penyusupan yang kedua terjadi pada saat Tim Pembela Demokrasi Indonesia mengajukan gugatan atas kepengurusan DPD PDI pro-Soerjadi ke Pengadilan Negeri Surabaya, bulan Februari lalu. Saat itu ada pemuda berkaus hitam, memakai emblem bergambar Megawati, berteriak, “Hakim goblok…!” Setelah dicek, ternyata si pemuda tersebut bukan kader PDI Megawati.

Gangguan-gangguan semacam itulah yang membuat para pengurus DPD PDI Jatim kubu Megawati mengaktifkan kembali satgas. Dan, upaya itu didukung oleh sejumlah purnawirawan yang merasa simpati dengan PDI kubu Megawati yang banyak menemui hambatan. Untuk itulah, mereka bersedia melatih anggota Satgas PDI, yang sebelumnya dilatih aparat kepolisian.

Namun, belum sampai niat baik tersebut kesampaian, aparat keamanan setempat buru-buru melarang. “Langkah pendukung Megawati itu tidak dapat dibenarkan sebab yang disahkan pemerintah itu hanyalah PDI hasil Kongres Medan, yang diketuai Soerjadi,” kata Pangdam V/Brawijaya Mayjen Imam Oetomo seperti dikutip Jawa Pos.

Pangdam Imam meminta para purnawirawan tersebut tidak melanggar aturan. Karena DPD PDI Megawati tidak sah, apa yang dilakukan para purnawirawan itu juga tidak sah. Kalau para purnawirawan melanggar ketentuan, ujar Imam, akan berhadapan dengan aparat keamanan.

Menurut dia, pembentukan Satgas “Purnawirawan” PDI kubu Mega itu tidak ada artinya. Imam pun “menyerang” pribadi purnawirawan tersebut. Menurut dia, tidak ada purnawirawan Satgas PDI yang berpangkat brigadir jenderal, tapi hanya sersan. “Mungkin dia itu ingin populer di kalangan pendukung Megawati,” ujarnya.

Yang disentil adalah Yudi Firmansyah, pensiunan marinir yang, entah dari mana, di kalangan aktivis PDI diketahui berpangkat brigadir jenderal. Berita seorang pensiunan brigadir jenderal akan menbentuk satgas itulah yang bikin geger. Mabes ABRI pun memanggilnya untuk mengoreksi kepangkatannya dan mengeluarkan pernyataan tertulis. Isinya: pangkat Yudi hanyalah sersan. Yudi sendiri kini memilih bungkam.

Ngomong-ngomong, apa, sih, yang ditakutkan dari satgas purnawirawan itu? Walaupun mantan tentara, toh mereka tak bersenjata.

Zed Abidien dan Abdul Manan (Surabaya)

D&R, Edisi 970322-031/Hal. 19 Rubrik Peristiwa & Analisa

Politics
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Email WhatsApp

Related Posts

Inconsistent Law Enforcers

16 January 2006

KPU Under Fire

27 June 2005

An Excessive Sentence?

13 June 2005

Taking Offense

24 May 2005

Removing a Stumbling Block

9 May 2005

An Icon from Calang

2 May 2005
Add A Comment
Leave A Reply Cancel Reply

About
About

Memulai karir sebagai koresponden Majalah D&R di Surabaya pada 1996 sampai 1999. Setelah itu menjadi editor Harian Nusa, Denpasar (1999-2001), bergabung ke Tempo sejak 2001 sampai sekarang.

Facebook X (Twitter) Instagram
Artikel Populer

Cek Palsu di Manhattan

25 September 2007

Bebas Memilih di Bilik Wartel

24 April 2007

Halo-halo dari Penjara

8 September 2008
Arsip
Artikel Lainnya

Iran Eksekusi ‘Agen Mossad’ yang Terlibat 200 Misi Pengintaian

24 December 2025

Makna Serial TV Seventeen Moments of Spring bagi SVR Rusia

22 December 2025

Blaise Metreweli, Perempuan Pertama yang Memimpin MI6

19 December 2025
Label
Al-Qaeda Alexander Litvinenko Amerika Serikat Arab Saudi Barack Obama Barisan Nasional Biro Penyelidik Federal (FBI) AS Central Intelligence Agency (CIA) CIA Cina Donald Trump Edward Snowden Federasi Rusia GCHQ Hamas Inggris Iran Israel Jerman Joko Widodo Journalism KGB Korea Selatan Korea Utara Mahatir Mohamad Malaysia Mossad Najib Razak National Security Agency (NSA) Osama bin Laden Pakatan Harapan Pakistan Palestina Politics Rusia Secret Intelligence Service (MI6) Security Service Inggris (MI5) Serangan 11 September 2001 spionase Uni Eropa Uni Sovyet US Navy SEALs Vladimir Putin whistleblower Wikileaks
© 2026 abdulmanan.net | blog personal abdul manan

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.