Close Menu
abdulmanan.netabdulmanan.net
  • Beranda
  • About
  • Reportase
  • Artikel
  • Spy Stories
  • Publikasi
Facebook X (Twitter) Instagram
1 May 2026
abdulmanan.netabdulmanan.net
Facebook X (Twitter) Instagram
  • Beranda
  • About
  • Reportase
  • Artikel
  • Spy Stories
  • Publikasi
abdulmanan.netabdulmanan.net
Home»Reportase»Bebas Memilih di Bilik Wartel

Bebas Memilih di Bilik Wartel

Abdul Manan24 April 2007
Waung telekomunikasi. Foto: https://www.nurdalilahputri.com/2022/07/hut-telkom-indonesia-57-tahun.html
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Mahkamah Agung memerintahkan PT Telkom mencabut ketentuan yang melarang masuknya pelaku usaha lain. Wartel tak lagi hanya menyediakan saluran 017.

PARA pemakai jasa wartel yang berhasrat memakai sambungan langsung internasional lewat saluran 001 dan 008 kini perlu bersabar dulu. Meski Mahkamah Agung sudah mengetukkan palu menyatakan PT Telkom harus mencabut pemblokiran dua saluran itu, putusan itu ternyata belum sampai ke kantor pusat Telkom di Bandung. ”Kami belum menerima putusan itu,” kata juru bicara PT Telkom, Eddy Kurnia.

Mahkamah Agung, pertengahan Januari lalu, mengeluarkan putusan penting bagi konsumen wartel alias warung telekomunikasi. Mahkamah menyatakan, Telkom melanggar Undang-Undang tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, yakni memonopoli jalur internasional lewat saluran 017. Akibatnya, hanya saluran itu yang tersedia di bilik-bilik wartel.

Putusan Mahkamah itu memperkuat putusan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). Sebelumnya, komisi yang menangani kasus monopoli Telkom itu telah memerintahkan Telkom menghapus pemblokiran saluran internasional 001 dan 008 karena dinilai melanggar Undang-Undang Antimonopoli.

Kasus yang menyeret Telkom ini bermula dari laporan pemblokiran saluran internasional 001 dan 008 milik Indosat oleh sejumlah wartel. ”Laporan datang dari wartel-wartel di daerah yang banyak didatangi wisatawan asing, seperti Batam dan Bali,” ujar Ketua Asosiasi Pengusaha Wartel Indonesia, Sriyanto.

Mereka, kata Sriyanto, ada yang mengadu tak bisa memakai lagi 001 dan 008 untuk ke luar negeri. Yang lain menyebut saluran itu bisa dipakai, tapi dipindahkan ke 017. Yang terakhir ini adalah saluran internasional milik Telkom yang menggunakan teknologi VOIP (voice over internet protocol). Sayangnya, saluran itu kurang jernih. ”Banyak konsumen komplain karena saluran 017 tidak bagus,” kata Sriyanto.

KPPU yang mendengar kasus ini lalu turun tangan. Pada Februari 2004 Komisi mulai menangani kasus ini. Tujuh bulan kemudian, tepatnya pada Agustus 2004, Komisi menjatuhkan putusan: Telkom terbukti melakukan praktek monopoli. Perusahaan ini diperintahkan mencabut ketentuan yang menyatakan wartel hanya boleh menjual produk Telkom.

Telkom tak terima atas putusan itu dan membawa masalah ini ke Pengadilan Negeri Bandung. Hasilnya, melegakan Telkom. Menurut pengadilan, putusan Komisi cacat hukum karena tidak memakai hukum acara dengan semestinya. Alasannya, selain saksi Telkom tidak disumpah, anggota Komisi pun tidak lengkap saat memeriksa kasus itu. Putusan yang diketuk pada November 2005 tersebut menuding KPPU mengabaikan adanya hak eksklusif Telkom untuk layanan domestik.

Giliran KPPU yang mengajukan kasasi terhadap putusan tersebut. Mahkamah Agung ternyata mendukung putusan Komisi. Pada 15 Januari lalu, majelis hakim kasasi yang dipimpin Marianna Sutadi membatalkan putusan pengadilan. Menurut Mahkamah, KPPU sudah tepat menggunakan hukum acara Undang-Undang Larangan Monopoli untuk kasus ini. Soal substansi perkara, Mahkamah sependapat dengan KPPU. ”Hak eksklusif tidak terus melekat walaupun kompensasi belum dibayarkan,” demikian bunyi putusan majelis hakim agung.

Menurut Mahkamah, Telkom dan Indosat memang diberi hak eksklusif oleh pemerintah. Telkom untuk saluran domestik, Indosat di saluran internasional. Tapi, setelah munculnya Undang-Undang Telekomunikasi pada 1999, hak istimewa itu dihentikan. Menteri Perhubungan pada 2004 juga mengeluarkan surat keputusan untuk penghentian hak eksklusif tersebut.

Ketua KPPU, Mohammad Iqbal, menyebutkan, dalam pemeriksaan Telkom mengatakan bahwa pihaknya meminta pemerintah membayar ganti rugi atas hilangnya hak eksklusif itu. Ganti rugi itu belum diberikan. Dengan alasan belum ada ganti rugi itulah Telkom lantas melarang ada produk lain di wartel. Namun, Mahkamah Agung berpendapat, alasan seperti itu tak bisa dipakai untuk melakukan monopoli. ”Soal ganti rugi belum dibayar, itu urusan Telkom dengan pemerintah,” kata Iqbal. Saat ditanya tentang ganti rugi itu juru bicara PT Telkom Eddy Kurnia tak mau berkomentar. ”Masalah kompensasi sudah selesai,” ujarnya. Jumlahnya? ”Saya tak ingat,” kata Eddy.

Berbeda dengan KPPU, Telkom hing-ga kini belum menerima putusan Mahkamah Agung. Menurut juru bicara Mahkamah Agung, Djoko Sarwoko, dari pembacaan putusan sampai pengiriman salinan putusan memang memakan waktu cukup lama. ”Bisa sampai enam bulan,” ujarnya. Penyebabnya, kata Djoko, hakim harus mengoreksi lagi isi dan ejaan putusan sebelum dikirim ke pengadilan serta pihak yang beperkara.

PT Indosat menyambut gembira putusan Mahkamah. ”Aspek kompetisi kan harus dijaga,” ujar juru bicara Indosat, Adita Irawati. Yayasan Lembaga Konsumen juga senang terhadap putusan tersebut. ”Dengan pencabutan monopoli berarti konsumen punya pilihan,” kata Ketua YLKI, Indah Sukmaningsih.

Wartel juga memetik untung dari putusan ini. Jika dulu mereka bekerja sama dengan Telkom karena tak punya alternatif lain, kini variasi terbentang di depan mata. ”Yang diuntungkan konsumen, bisa memilih layanan sesuka hati,” ujar Sriyanto. Soal keuntungan, menurut dia, sambungan langsung internasional (SLI) sebenarnya hanya dinikmati wartel besar di daerah yang banyak wisatawan asingnya. Dalam catatan Sriyanto, sampai kini ada sekitar 130 ribu wartel dari total sekitar 190 ribu yang menjalin kerja sama dengan Telkom. Pembagian keuntungannya, 30 persen untuk wartel dan 70 persen untuk Telkom.

Iqbal yakin putusan Mahkamah ini akan menguntungkan konsumen karena bakal memunculkan kompetisi. Dia lantas menunjuk Singapura. Di sana, ujarnya, jasa telekomunikasi murah karena Singapore Telecom Mobile dan Singapore Technologies Telemedia berkompetisi. ”Tanpa kompetisi, harga tidak bisa turun.”

Abdul Manan, Rinny Srihartini (Bandung)

Majalah Tempo, Edisi 09/XXXIIIIII/23 – 29 April 2007

KPPU PT Indosat PT Telkom VOIP Warung Telekomunikasi
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Email WhatsApp

Related Posts

Manis-Pahit Budi Daya Keramba Jaring Apung

27 October 2024

Kenangan Pudar di Danau Maninjau

27 October 2024

Havana Syndrome Operasi Unit 29155 GRU Rusia?

3 April 2024

Jenderal Dudung soal Kebijakan TNI AD, Papua dan Revisi UU TNI

22 May 2023

Surya Paloh soal Panas Dingin Hubungannya dengan Jokowi

15 May 2023

Sukidi soal Al Quran, Akal dan Campur Tangan Negara

17 April 2023
View 3 Comments

3 Comments

  1. Anonymous on 30 June 2007 11:20

    Duh VoIP Telkom yang kresek-kresek gitu dijual secara monopoli. Coba kalo kualitasnya bagus,dan harganya lebih murah pasti gak akan diprotes. Akhirnya Telkom sukses memonopoli 🙂

    Reply
  2. Anonymous on 6 July 2007 01:05

    wah ternyata gitu toh ….
    * gak pernah pake sambunga internasional , cukup pake YM aja *

    Reply
  3. Indo on 26 July 2007 13:26

    ”Kami belum menerima putusan itu,” kata juru bicara PT Telkom, Eddy Kurnia.

    Kata2 diatas tsb. sudah menjadi warisan bangsa menurut pandangan saya karena seringnya di sebut2 dimana mana.

    Tentu saja aneh kalo masih belum menerima hasil putusan pengadilan tsb. padahal sudah diputuskan pengadilan.
    DImana kendalanya sampai bisa seperti itu?
    Apakah bapak2 di telkom tidak ada komunikasi yg baik antara
    satu dan lainnya?
    Yg hadir mendengar keputusan tsb. siapa ya? utusan yg bukan pegawai telkom atau siapa?

    Tinggal meneruskan info putusan pengadilan ke seluruh telkom saja masih seperti jaman kuno pakai kuda lambatnya minta ampun, padahal mereka punya alat2 canggih spt. satelit dsbnya buat telekomunikasi!
    Heran … bertelekomunikasi didalam telkom saja masih spt itu.
    Alatnya yg kurang baik atau system managemen atau karyawannya ya?

    Reply
Leave A Reply Cancel Reply

About
About

Memulai karir sebagai koresponden Majalah D&R di Surabaya pada 1996 sampai 1999. Setelah itu menjadi editor Harian Nusa, Denpasar (1999-2001), bergabung ke Tempo sejak 2001 sampai sekarang.

Facebook X (Twitter) Instagram
Artikel Populer

Cek Palsu di Manhattan

25 September 2007

Bebas Memilih di Bilik Wartel

24 April 2007

Halo-halo dari Penjara

8 September 2008
Arsip
Artikel Lainnya

Iran Eksekusi ‘Agen Mossad’ yang Terlibat 200 Misi Pengintaian

24 December 2025

Makna Serial TV Seventeen Moments of Spring bagi SVR Rusia

22 December 2025

Blaise Metreweli, Perempuan Pertama yang Memimpin MI6

19 December 2025
Label
Al-Qaeda Alexander Litvinenko Amerika Serikat Arab Saudi Barack Obama Barisan Nasional Biro Penyelidik Federal (FBI) AS Central Intelligence Agency (CIA) CIA Cina Donald Trump Edward Snowden Federasi Rusia GCHQ Hamas Inggris Iran Israel Jerman Joko Widodo Journalism KGB Korea Selatan Korea Utara Mahatir Mohamad Malaysia Mossad Najib Razak National Security Agency (NSA) Osama bin Laden Pakatan Harapan Pakistan Palestina Politics Rusia Secret Intelligence Service (MI6) Security Service Inggris (MI5) Serangan 11 September 2001 spionase Uni Eropa Uni Sovyet US Navy SEALs Vladimir Putin whistleblower Wikileaks
© 2026 abdulmanan.net | blog personal abdul manan

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.