Close Menu
abdulmanan.netabdulmanan.net
  • Beranda
  • About
  • Reportase
  • Artikel
  • Spy Stories
  • Publikasi
Facebook X (Twitter) Instagram
19 June 2026
abdulmanan.netabdulmanan.net
Facebook X (Twitter) Instagram
  • Beranda
  • About
  • Reportase
  • Artikel
  • Spy Stories
  • Publikasi
abdulmanan.netabdulmanan.net
Home»Diplomasi Lady Qui

Diplomasi Lady Qui

Abdul Manan27 November 2013
Default Image
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Jenewa – Dua tahun lalu, koran Le Monde melaporkan pandangan menghakimi dari seorang birokrat Prancis yang menyebut Catherine Ashton adalah “nulle” alias “bukan siapa-siapa”. “Lady Qui (Nyonya Siapa)?” begitu kata pejabat Prancis saat bicara tentang Ashton, yang saat itu sudah menjadi Perwakilan Tinggi Uni Eropa Urusan Luar Negeri dan Kebijakan Keamanan dan juga Wakil Presiden Komisi Eropa.

Namun, 24 November 2013 lalu di Jenewa, Swiss, ia membalik persepsi itu setelah sukses menengahi kesepakatan perjanjian nuklir antara Iran dengan negara P5+1, yang terdiri dari Amerika Serikat, Rusia, Cina, Prancis, Inggris, dan Jerman. Kesepakatan awal itu merupakan terobosan diplomasi baru dalam perseteruan Iran dengan negara Barat, yang mencurigainya akan membangun senjata nuklir.

Perkembangan signifikan ini, tidak diragukan lagi karena perubahan fundamental pemerintahan di Teheran setelah tokoh reformis naik ke tampuk pemerintahan, Hasan Rouhani, menggantikan pendahulunya yang dikenal beraliran keras, mahmud Ahmadinejad. Faktor lainnya, karena pemerintah Barack Obama mulai serius berbicara dengan Iran setelah perseteruannya lebih dari tiga dekade.

Di tengah arus perubahan itu, Ashton memainkan diplomasinya melalui puluhan pertemuan rumit dan panjang. Format pembicaraan nuklir Iran di Jenewa memang agak memusingkan. Ada pertemuan bilateral antara Iran dengan masing-masing enam negara, serta sesi tak terhitung jumlahnya antara dua dari enam negara. Lalu ada pleno yang dihadiri semua.

Dalam diplomasi multi-dimensi dan kompleks ini, satu-satunya yang selalu hadir dalam setiap pertemuan itu adalah Ashton. Sebagai juru runding utama yang mewakili enam negara besar, ia bertanggungjawab meringkas hasil pembicaraan, membujuk pihak yang terlibat, mempersempit perbedaan, dan menerima pesan secara bolak-balik antara Iran dan enam negara.

Kerja keras Ashton, yang negosiasinya maju mundur, terbayar Ahad lalu saat delegasi Iran yang dipimpin Menteri Luar Negeri Mohammad Javad Zarif dan enam negara besar mendapatkan titik temu. Inti dari kesepakatan yang berlaku enam bulan itu adalah, Iran setuju pembekuan aktivitas penting nuklirnya dengan kompensasi pencabutan sanksi ekonomi dan pemberian bantuan.

Ashton, yang awalnya sempat dicemooh karena tak memiliki pengalaman diplomasi, kini menuai pujian. Usai penandatangan itu, Menteri Luar Negeri AS John Kerry memeluk erat Ashton dan memujinya sebagai “negosiator gigih dan tekun.” Pujian serupa datang dari Jose Manuel Barroso, presiden Komisi Eropa, “Untuk prestasi yang merupakan hasil keterlibatan tak kenal lelah dan dedikasinya untuk masalah ini selama empat tahun terakhir.”

Sebelumnya, Ashton kurang diperhitungkan. Saat Inggris diminta mengajukan calon untuk mengisi pos yang ditempati Ashton saat ini, Perdana Menteri Gordon Brown menunjuk pendahulunya, Tony Blair. Usul ini diblokir sebagian anggota Uni Eropa yang takut politisi Buruh itu akan membayangi-bayangi anggota komisi yang lain. Ashton adalah calon keempat yang diajukan, dan diterima.

Ashton membangun jalur diplomatik Uni Eropa dari awal, tapi ia diragukan karena dianggap tak punya pengalaman –dan perempuan. Kritik menyakitkan ini membuatnya menjadi low profile, gila kerja, malang-melintang di dunia, menghindari media, perlahan-lahan membangun hubungan pribadi dengan koleganya di Iran, Cina, dan Amerika Serikat. Usahanya ini membuahkan hasil dan negosiasi nuklir Iran adalah salah satunya.

Guardian | Daily Telegraph | Telegraph | Haaretz | Abdul Manan


KORAN TEMPO | 27 November 2013

Amerika Serikat Catherine Ashton nuklir Iran Uni Eropa
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Email WhatsApp

Related Posts

Iran Eksekusi ‘Agen Mossad’ yang Terlibat 200 Misi Pengintaian

24 December 2025

Havana Syndrome Operasi Unit 29155 GRU Rusia?

3 April 2024

Gempa Seusai Corona

1 March 2020

Bibit-bibit Perpecahan di Bosnia

21 October 2019

Ambisi Sang Putri Saudi

29 July 2019

Geliat Haiphong di Tengah Perang

7 July 2019
Add A Comment
Leave A Reply Cancel Reply

About
About

Memulai karir sebagai koresponden Majalah D&R di Surabaya pada 1996 sampai 1999. Setelah itu menjadi editor Harian Nusa, Denpasar (1999-2001), bergabung ke Tempo sejak 2001 sampai sekarang.

Facebook X (Twitter) Instagram
Artikel Populer

Cek Palsu di Manhattan

25 September 2007

Bebas Memilih di Bilik Wartel

24 April 2007

Halo-halo dari Penjara

8 September 2008
Arsip
Artikel Lainnya

Iran Eksekusi ‘Agen Mossad’ yang Terlibat 200 Misi Pengintaian

24 December 2025

Makna Serial TV Seventeen Moments of Spring bagi SVR Rusia

22 December 2025

Blaise Metreweli, Perempuan Pertama yang Memimpin MI6

19 December 2025
Label
Al-Qaeda Alexander Litvinenko Amerika Serikat Arab Saudi Barack Obama Barisan Nasional Biro Penyelidik Federal (FBI) AS Central Intelligence Agency (CIA) CIA Cina Donald Trump Edward Snowden Federasi Rusia GCHQ Hamas Inggris Iran Israel Jerman Joko Widodo Journalism KGB Korea Selatan Korea Utara Mahatir Mohamad Malaysia Mossad Najib Razak National Security Agency (NSA) Osama bin Laden Pakatan Harapan Pakistan Palestina Politics Rusia Secret Intelligence Service (MI6) Security Service Inggris (MI5) Serangan 11 September 2001 spionase Uni Eropa Uni Sovyet US Navy SEALs Vladimir Putin whistleblower Wikileaks
© 2026 abdulmanan.net | blog personal abdul manan

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.