Close Menu
abdulmanan.netabdulmanan.net
  • Beranda
  • About
  • Reportase
  • Artikel
  • Spy Stories
  • Publikasi
Facebook X (Twitter) Instagram
29 April 2026
abdulmanan.netabdulmanan.net
Facebook X (Twitter) Instagram
  • Beranda
  • About
  • Reportase
  • Artikel
  • Spy Stories
  • Publikasi
abdulmanan.netabdulmanan.net
Home»Agen Dinas Rahasia Prancis Minta Maaf Atas Pengeboman Rainbow Warrior

Agen Dinas Rahasia Prancis Minta Maaf Atas Pengeboman Rainbow Warrior

Abdul Manan7 September 2015
Default Image
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Agen dinas rahasia Perancis yang memasang peledak yang kemudian menenggelamkan kapal Greenpeace Rainbow Warrior di Selandia Baru 30 tahun yang lalu, meminta maaf atas perbuatannya. Soal ini ditulis abc.net.au dalam edisi 7 September 2015.

Dalam sebuah wawancara dengan situs investigasi Mediapart, Jean-Luc Kister mengatakan ini sekarang adalah waktu yang tepat untuk mengatakan permintaan maaf kepada keluarga fotografer Portugis Fernando Pereira, Greenpeace. dan masyarakat Selandia Baru. Pereira tewas dalam ledakan itu.

“Tiga puluh tahun setelah kejadian, sekarang emosi telah mereda dan juga ada jarak karena saya sekarang memiliki kehidupan profesional, saya pikir ini adalah waktu yang tepat bagi saya untuk mengekspresikan penyesalan terdalam dan permintaan maaf saya,” kata Kister dalam wawancara sekitar 1 jam itu.

Pengeboman itu terjadi pada 10 Juli 1985. Saat itu Rainbow Warrior berlabuh di Auckland, dalam perjalanan untuk menggelar protes atas pengujian nuklir oleh Prancis di Mururoa Atoll, sekitar 1.200 kilometer arah Tahiti.

Kister bekerja untuk agen mata-mata Prancis, Direction générale de la sécurité extérieure (DGSE), dalam misi untuk menghentikan Greenpeace dengan cara mengebom kapal tersebut agar tak bisa melanjutkan rencananya.

Kister adalah bagian dari apa yang disebut “tim ketiga” DGSE, yang misinya adalah memasang dua peledak di lambung kapal. Saat itu ia bekerja dengan koleganya sesama penyelam, Jean Camas.

Anggota ketiga dari tim itu adalah Gerard Royal, saudara dari menteri lingkungan Prancis saat ini dan mantan calon presiden Segolene Royal. Gerard bersama dua orang di perahu setelah operasi rahasia.

“Saya memiliki darah orang yang tidak bersalah di hati nurani saya, dan itu menjadi beban saya,” kata Kister yang tampak emosional dalam wawancara itu. “Kami bukan pembunuh berdarah dingin. Nurani saya membawa saya untuk meminta maaf dan menjelaskan soal ini sendiri.”

Kister mengatakan, misi yang dilaksanakan oleh 12 anggota unit itu melaksanakan perintah menteri pertahanan Perancis Charles Hernu. Ia menyebut misi itu “tidak proporsional” karena ada cara lain yang lebih kurang drastis untuk menghentikan Rainbow Warrior, yaitu dengan merusak poros baling-baling. Namun, ide itu ditolak pemerintah.

“Ada kemauan pada tingkat tinggi untuk mengatakan: ini harus berakhir sekali dan untuk seterusnya, kita perlu mengambil langkah-langkah radikal,” kata Kister, menjelaskan suasana saat itu. “Kami diberitahu bahwa kami harus menenggelamkan kapal itu. Yah, sederhana untuk menenggelamkan kapal. Anda cukup membuat lubang di dalamnya.”

Nama Kister sempat bocor ke media segera setelah pengeboman itu, meskipun dengan ejaan yang salah: Kyster. Ia menilai pembukaan identitas itu sebagai tindakan “pengkhianatan tingkat tinggi”. Ia mengaku tidak marah kepada wartawan yang membocorkan soal itu, tapi justru pada pemerintah saat itu. Jika ini terjadi di Amerika, kata Kister, pasti ada orang yang akan diproses karena pembocoran itu.

Dua hari setelah pengeboman, dua dari agen yang ambil bagian dalam operasi ini, yaitu Alain Mafart dan Dominique Prieur, ditangkap oleh polisi Selandia Baru. Waktu itu Mafart dan Prieur menyamar sebagai wisatawan asal Swiss. Setelah ditangkap, penyamaran mereka terbuka. Hernu dipaksa mengundurkan diri dua bulan kemudian akibat insiden itu.

Mafart dan Prieur didakwa dengan pembunuhan. Keduanya akhirnya mengaku bersalah dan menerima hukuman 10 tahun penjara. Tetapi mereka dibebaskan dalam beberapa bulan kemudian di bawah kesepakatan antara dua negara. Saat itu Perancis mengancam akan memblokir akses perdagangan ke pasar Eropa kecuali Wellington menyerahkan agennya. Sikap pemerintah ini memicu kemarahan publik Selandia Baru.

Perancis telah menyampaikan permintaan maaf resmi atas pemboman Rainbow Warrior dan membayar ganti rugi.

ABC.NET.AU | ABDUL MANAN

Tulisan dimuat di Tempo.co

DGSE Prancis Greenpeace kapal Rainbow Warrior nuklir
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Email WhatsApp

Related Posts

Beda Hitung Ihwal Deforestasi

13 November 2021

Alarm Dini dari Pesisir Jakarta

24 July 2021

Azorian, Proyek CIA untuk Mencuri Kapal Selam Uni Sovyet

18 April 2014

Greenpeace Luncurkan Peta Rencana Pengembangan Hutan

7 December 2010
Add A Comment
Leave A Reply Cancel Reply

About
About

Memulai karir sebagai koresponden Majalah D&R di Surabaya pada 1996 sampai 1999. Setelah itu menjadi editor Harian Nusa, Denpasar (1999-2001), bergabung ke Tempo sejak 2001 sampai sekarang.

Facebook X (Twitter) Instagram
Artikel Populer

Cek Palsu di Manhattan

25 September 2007

Bebas Memilih di Bilik Wartel

24 April 2007

Halo-halo dari Penjara

8 September 2008
Arsip
Artikel Lainnya

Iran Eksekusi ‘Agen Mossad’ yang Terlibat 200 Misi Pengintaian

24 December 2025

Makna Serial TV Seventeen Moments of Spring bagi SVR Rusia

22 December 2025

Blaise Metreweli, Perempuan Pertama yang Memimpin MI6

19 December 2025
Label
Al-Qaeda Alexander Litvinenko Amerika Serikat Arab Saudi Barack Obama Barisan Nasional Biro Penyelidik Federal (FBI) AS Central Intelligence Agency (CIA) CIA Cina Donald Trump Edward Snowden Federasi Rusia GCHQ Hamas Inggris Iran Israel Jerman Joko Widodo Journalism KGB Korea Selatan Korea Utara Mahatir Mohamad Malaysia Mossad Najib Razak National Security Agency (NSA) Osama bin Laden Pakatan Harapan Pakistan Palestina Politics Rusia Secret Intelligence Service (MI6) Security Service Inggris (MI5) Serangan 11 September 2001 spionase Uni Eropa Uni Sovyet US Navy SEALs Vladimir Putin whistleblower Wikileaks
© 2026 abdulmanan.net | blog personal abdul manan

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.