Monday, July 08, 2019

Geliat Haiphong di Tengah Perang

RODA bisnis di Zona Kerja Sama Ekonomi dan Perdagangan Cina-Vietnam di pusat manufaktur Haiphong, Vietnam, selama ini berjalan lambat. Pengelola awalnya hengkang setelah terjadi serangkaian kerusuhan anti-Cina pada Mei 2014. Saat itu para pemrotes membakar kompleks dan pabrik serta menyerang pekerja Cina, menewaskan lebih dari 20 orang dan melukai 100 orang lebih.

Menurut South China Morning Post edisi 3 Juni lalu, suasana di zona itu berubah sejak pertengahan tahun lalu, setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menaikkan tarif impor barang dari Cina. Kini 16 dari 21 perusahaan asal Cina direlokasi ke zona ini setelah Trump memulai perang tarif, yang kemudian dikenal sebagai “perang dagang”.

Amerika memulai perang ini dengan mengenakan tarif 30 persen untuk panel surya impor dan 20 persen untuk mesin cuci pada Januari 2018. Langkah itu diikuti pengenaan tarif 25 persen untuk baja dan 10 persen untuk aluminium, terutama dari Cina, guna memangkas defisit perdagangannya. Defisit neraca perdagangan Amerika sebesar US$ 566 miliar. Sebanyak US$ 375 miliar atau separuh lebih di antaranya perdagangan dengan Cina.

Langkah Washington ini ditanggapi Beijing dengan menaikkan tarif barang ekspornya. Setelah itu, keduanya berbalas-balasan dengan mengerek naik tarif barang pada Juli dan September 2018. Setelah “gencatan senjata” sejenak pada Desember, perang berlanjut pada Mei 2019, saat Amerika kembali meningkatkan tarif dan ditanggapi Cina dengan cara serupa sebulan kemudian.

Pengenaan tarif otomatis mendongkrak harga barang ekspor Cina ke Amerika. Begitu juga sebaliknya. Sejumlah pengusaha lantas bersiasat dengan merelokasi perusahaannya keluar dari Cina agar bisa mengekspor barang ke Amerika tanpa terkena tarif tinggi. Menurut laporan ekonom Nomura, bank investasi Jepang, salah satu negara Asia yang mendapat banyak keuntungan dari perang dagang itu adalah tetangga selatan Cina: Vietnam.

Kementerian Perencanaan dan Investasi Vietnam pada Selasa, 25 Juni lalu, mengumumkan bahwa mereka menerima investasi asing langsung senilai US$ 9,1 miliar pada semester pertama tahun ini, naik 8 persen dibanding tahun sebelumnya. Sebagian besar investasi digunakan untuk pembuatan, pemrosesan, dan proyek real estate.

Sumber utama investasi adalah Hong Kong, yakni sebesar US$ 5,3 miliar atau 28,7 persen dari total investasi, diikuti Korea Selatan dengan US$ 2,73 miliar atau 14,8 persen. Mengingat sebagian besar pangkalan manufaktur tradisional Hong Kong telah bermigrasi ke Guangdong, Cina, dalam beberapa dekade terakhir, diperkirakan investasi baru di Vietnam ini mewakili perpindahan pabrik-pabrik Hong Kong itu.

Salah satu perusahaan yang pindah ke Haiphong adalah TP-Link, produsen jaringan komputer Tiongkok yang berbasis di Shenzhen. Mereka menyewa pabrik di zona itu dan akan mulai menguji peralatannya pada Juli ini. Perusahaan penyedia perangkat jaringan Wi-Fi konsumen terbesar di dunia itu membeli 140 ribu meter persegi lahan tambahan di zona tersebut untuk memperluas produksinya.

Ketika TP-Link membeli tanah pada akhir 2018, harganya US$ 75-80 per meter persegi. Sekarang harganya telah naik menjadi US$ 90 per meter persegi. Menurut South China Morning Post, hal ini menunjukkan lonjakan besar minat perusahaan manufaktur di Vietnam yang disebabkan oleh perang dagang dua raksasa ekonomi dunia.

“Pemerintah daerah Cina tentu tidak senang dengan makin banyaknya produsen yang pindah ke Vietnam, tapi Presiden Cina Xi Jinping secara jelas mengedepankan Insiatif Sabuk dan Jalan, yang tidak dapat diganggu pemerintah daerah,” kata Chen Xu, Wakil Manajer Umum Zona Kerja Sama Haiphong.

Insiatif Sabuk dan Jalan adalah strategi pembangunan global Cina yang melibatkan pengembangan infrastruktur dan investasi di 152 negara dan organisasi internasional di Asia, Eropa, Afrika, Timur Tengah, dan Amerika. “Pemerintah daerah tidak mendorong produsen melakukan relokasi, tapi mereka tidak berani menghentikannya,” tutur Chen.

Pekan lalu, Nikkei Asian Review mengutip sumber anonim yang mengungkapkan bahwa Apple sedang mempertimbangkan rencana memindahkan hingga 30 persen produksi iPhone dari Cina. India dan Vietnam merupakan kandidat teratas untuk membantu Apple.

Data Amerika Serikat untuk empat bulan pertama 2019 menunjukkan ada kenaikan impor dari Vietnam, Taiwan, dan Korea Selatan-masing-masing 38,4, 22,1 dan 17,1 persen-dibanding periode yang sama tahun lalu. Sedangkan impor Negeri Abang Sam dari Cina turun 12,8 persen.

Menurut data Komisi Perdagangan Internasional Amerika Serikat, yang dikutip Financial Times, impor telepon seluler Amerika dari Vietnam naik lebih dari dua kali lipat dalam empat bulan pertama 2019 dibanding periode yang sama tahun lalu, sementara impor komputer naik 79 persen. Alas kaki, tekstil, dan furnitur dari Vietnam pun mencatatkan peningkatan permintaan dari Amerika-barang-barang yang dulu biasanya didatangkan dari Cina.

Negara Asia selain Vietnam juga mendapat limpahan pabrik yang pindah, yakni Myanmar. Shu Ke’an, pemilik Yakeda Tactical Gear Co, membuka pabrik di Yangon, Myanmar, September tahun lalu. Pabrik itu mengolah bahan mentah dari Cina menjadi ransel, tas, dan kantong untuk senapan dan pistol. Produknya diberi label “Buatan Myanmar” dan hampir semuanya diekspor ke Amerika. Tapi Shu mempertahankan 220 pekerja di pabriknya di Guangzhou, Cina, yang kini kebanyakan memasok kebutuhan klien di Timur Tengah, Afrika, dan Eropa.

Saat importir Amerika beralih ke negara-negara Asia untuk mencari pasokan, Cina mengambil barang dari Amerika Utara dan Selatan untuk mendapat pasokan lebih murah. Pada 2018, impor kedelai Cina dari Amerika hanya 16,6 juta ton, setengah dari tahun sebelumnya. Sebaliknya, Cina mendatangkan 4,39 juta ton kedelai dari Brasil, naik 126 persen dari tahun sebelumnya.

Perang dagang ini juga memperlambat pertumbuhan ekonomi Cina. Dari tingkat pertumbuhan produk domestik bruto tahunan sebesar 12 persen pada 2010, angkanya sekarang sedikit lebih dari setengahnya. Tahun lalu, angkanya 6,6 persen.

Menurut Kenneth Rapoza di Forbes, 7 Juni lalu, setahun perang dagang belum berdampak banyak pada ekonomi Amerika. Pendapatan kuartal pertama tidak menunjukkan bukti resesi pendapatan perusahaan, meskipun ada peringatan bahwa harga barang yang diimpor dari Cina segera naik karena perubahan tarif itu.

Namun situasi berbeda bagi sektor pertanian. Menurut Vox, pertanian yang menghasilkan jagung, kedelai, susu, dan daging sapi sudah menderita karena kurangnya permintaan global serta harga yang rendah, dan kini diperparah oleh perang dagang. Donald Trump meluncurkan paket bantuan US$ 12 miliar bagi para petani.

Perang dagang ini, tulis New York Times, membuat investasi bisnis, kepercayaan, dan arus perdagangan di seluruh dunia menjadi dingin dan memperburuk perlambatan ekonomi global. Ekonom memperingatkan bahwa eskalasi lebih lanjut oleh Trump dapat memperlambat pertumbuhan global.

Abdul Manan (South China Morning Post, Reuters, Deutsche Welle, IBT)

Majalah Tempo, 7 Juli 2019

No comments: