Monday, February 19, 2018

Kontroversi dari dapur Trump

SEMUANYA bermula dari sebuah jamuan makan malam pada 2016. Menurut Los Angeles Times, itu pertama kalinya Stephen Rubin, presiden penerbit buku Henry Holt & Company, mendengar rencana Michael Wolff menulis tentang Donald Trump. Saat itu Trump maju sebagai calon presiden dari Partai Republik yang menghadapi kandidat dari Partai Demokrat, Hillary Clinton. Di luar perkiraan, Trump mengalahkan Hillary. 

Buku berjudul Fire and Fury: Inside the Trump White House itu dijadwalkan terbit pada 9 Januari 2018 untuk menandai satu tahun Trump di Gedung Putih. Menjelang terbit, sebagian isi buku muncul setidaknya di dua media, The Guardian dan The Hollywood Reporter.

Buku setebal 269 halaman yang berkisah soal kegaduhan pada masa kampanye pemilihan presiden dan saat Trump menjadi presiden selama setahun itu membuat Gedung Putih resah. Trump, lewat cuitannya di Twitter, menyebut buku itu banyak berisi "informasi sampah". Charles Harder, pengacara Trump, mengirimkan surat kepada Wolff dan Holt agar menghentikan penerbitan buku tersebut karena kutipannya berisi "pernyataan salah atau tidak berdasar" tentang presiden.

Bukannya menghentikan, Holt malah memajukan jadwal terbit lebih cepat empat hari. Saat Harder mengirimkan surat bernada mengancam itu, Fire and Fury telah dikirim ke sejumlah toko buku. Kramerbooks, salah satu toko buku di Washington, DC, berinisiatif menjual buku itu pada malam 5 Januari 2018. Reporter BuzzFeed di Washington, mengutip petugas toko, menyatakan ratusan buku itu terjual habis dalam 20 menit.

Niat Trump menghentikan Fire and Fury membuat buku itu malah banyak dicari. Dalam kurun tiga pekan setelah terbit, buku itu terjual 1,7 juta eksemplar dalam format hardcover, e-book, dan audio. Sampai pertengahan Februari lalu, menurut Publishers Weekly, buku tersebut masih berada di peringkat teratas dengan penjualan 62.090 eksemplar.

MICHAEL Wolff, pria kelahiran New Jersey, 27 Agustus 1953, berasal dari keluarga media. Ibunya, Marguerite Wolff, wartawan surat kabar. Ayahnya, Lewis Wolff, praktisi periklanan. Seiring dengan kehidupan profesionalnya berkembang, dia menggabungkan bakat kedua orang tuanya. Kariernya di dunia media diawali sebagai penulis muda di surat kabar The New York Times. Setelah itu, ia menjadi kolumnis di The Guardian, The Hollywood Reporter, USA Today, dan Vanity Fair.

Wolff telah menghasilkan tujuh buku. Selain The Man Who Owns the News, buku lain adalah Burn Rate: How I Survived the Gold Rush Years on the Internet (1998). Tidak berbeda dengan buku sebelumnya, dalam Fire and Fury Wolff menggunakan pendekatan bercerita dalam menulis rahasia dapur Trump.

Dalam kata pengantar Fire and Fury, Wolff mengaku terdorong menulis buku itu karena melihat naiknya Trump sebagai tanda era Amerika Serikat memasuki "badai politik paling luar biasa" sejak skandal Watergate. Skandal yang terjadi pada 1970-an itu berujung pada mundurnya Richard Nixon dari posisi presiden. Menurut Wolff, bukunya "mencoba melihat kehidupan gedung Putih di bawah Trump melalui kacamata orang-orang terdekatnya".

Ada sekitar 200 orang yang diwawancarai Wolff, tapi sumber kuncinya adalah Steve Bannon, pengelola media konservatif Breitbart News dan penasihat politik Trump. Ketidakcocokannya dengan sejumlah orang dalam lingkaran Trump, termasuk dengan putri Trump, Ivanka, dan Jared Kushner, penasihat Trump, berujung pada mundurnya Bannon pada 18 Agustus 2017.

Wolff mengungkap sejumlah hal dalam bukunya, dari kegaduhan di dalam tim kampanye Trump, ketidakyakinan anggota tim bahwa Trump akan terpilih menjadi presiden, sampai perdebatan saat Trump akan memilih kepala staf kepresidenan. Katie Walsh, mantan penasihat Gedung Putih, dalam buku Wolff itu menyatakan "Kekacauan sebagai strategi Steve (Bannon)."

Wolff, yang mengutip Bannon, juga mengungkap soal penyelidikan Biro Penyelidik Federal (FBI) mengenai hubungan orang-orang Trump dengan Rusia soal pemilihan presiden. Bannon menyatakan bahwa Trump, yang sangat dihantui oleh penyelidikan FBI itu, akhirnya memecat James Comey dari jabatan Direktur FBI.

Wolff menjelaskan secara rinci tentang siapa pendukung dan penentang pemecatan Comey. Bannon adalah salah satu penentang, yang membuatnya berseberangan dengan Jared Kushner dan Ivanka. Pemecatan itu pula yang mendorong Deputi Jaksa Agung Rod Rosenstein menunjuk Robert Swan Mueller III, bos FBI pada 2001-2013, menjadi penasihat khusus untuk penyelidikan soal campur tangan Rusia dalam pemilihan Presiden Amerika pada 2016.

Penyelidikan FBI memang pantas membuat Gedung Putih waswas. Meski Trump memecat Comey, penyelidikan soal Rusia itu tetap berlanjut di bawah kendali Mueller. Orang pertama di lingkaran Trump yang didakwa Mueller adalah mantan penasihat kampanye soal kebijakan luar negeri Trump, George Papadopoulos.

FBI menangkap Papadopoulos pada Juli 2017 karena memberikan keterangan palsu saat diperiksa enam bulan sebelumnya mengenai hubungannya dengan Rusia. Giliran berikutnya adalah kepala tim kampanye Trump, Paul Manafort, dan wakilnya, Richard W. Gates III. Keduanya didakwa pada Oktober 2017 dengan tuduhan melakukan penipuan, persekongkolan, dan pencucian uang yang berhubungan dengan pekerjaan lobi mereka di Ukraina. Orang dekat Trump lain yang juga didakwa adalah mantan penasihat keamanan Trump, Michael Flynn, pada Desember 2017. Flynn didakwa sama seperti Papadopoulos.

Saat Mueller berada di puncak penyelidikan itulah buku Wolff, dengan pengakuan dari Bannon, keluar. Bannon mengungkap soal pertemuan antara Donald Trump Junior, Jared Kushner, dan Paul Manafort di lantai 25 Trump Tower, New York, pada 9 Juni 2017.

Menurut Bannon, ketiga orang senior di tim kampanye Trump itu beranggapan bahwa pertemuan dengan pemerintah asing tersebut ide yang baik. Masalahnya, pertemuan tersebut tanpa didampingi pengacara. "Bahkan, jika kamu berpikir bahwa hal itu tidak berbau pengkhianatan atau tidak patriotis, Anda seharusnya segera menelepon FBI," ujar Bannon.

Dalam siaran pers Gedung Putih, Trump Jr. mengatakan dia dan pengacara Rusia bertemu "terutama membahas sebuah program adopsi anak-anak Rusia". Trump Jr. kemudian merilis sekumpulan percakapan e-mail antara dia dan orang Rusia itu. E-mail itu mengungkap bahwa orang Rusia tersebut adalah pengacara Natalia Veselnitskaya, pelobi Rinat Akhmetshin, seorang penerjemah bahasa Rusia, seorang karyawan dari kelompok real estate Rusia yang berbasis di Amerika, dan promotor musik asal Inggris, Rob Goldstone.

Salah satu e-mail Trump Jr. itu menyatakan Goldstone meyakinkannya bahwa pengacara Rusia tersebut memiliki "dokumen dan informasi resmi" yang akan "menyulitkan Clinton" dan "sangat berguna bagi ayahmu". Menurut majalah Rolling Stone, Goldstone menulis bahwa informasi buruk tentang Clinton itu adalah "bagian dari dukungan pemerintah Rusia untuk Tuan Trump".

Di luar itu, buku Wolff juga dikritik soal keakuratannya. Salah satunya mengenai kehadiran Ivanka dalam sebuah pertemuan dengan para pelobi dan eksekutif sejumlah perusahaan dan media besar, seperti Uber, Elon Musk, Bloomberg Media, dan Time Warner, di Four Seasons Hotel di Georgetown. Jurnalis desk nasional Washington Post, Mark Berman, disebut hadir juga. Berman membantah kehadirannya.

Soal sejumlah orang yang mengaku tak memberikan pernyataan seperti dikutip dalam bukunya, Wolff menyadarinya. Menurut dia, seorang sumber bisa saja lupa telah berbicara kepada reporter. "Sudah naluriah kalau mereka mengatakan, ’Ya Tuhan, saya tidak mengatakannya.’ Tapi saya akan memberi tahu Anda bahwa mereka memang mengatakannya," ucap Wolff, seperti dilansir NPR.

Kini kubu Trump menyiapkan sebuah buku tandingan yang akan ditulis Jeanine Pirro, mantan pengacara dan hakim. Perempuan 66 tahun itu kawan lama dan pembela setia Trump. Tapi Pirro membantah anggapan bahwa bukunya itu nanti merupakan respons langsung terhadap Fire and Fury.

Abdul Manan

Majalah Tempo, edisi 25 Februari 2018
Rubrik: Iqra

No comments: