Monday, February 26, 2018

Cerita dari Bunker Kota Ghouta

SELASA pekan lalu seharusnya menjadi hari yang cukup tenang bagi warga Ghouta Timur, Suriah, meski hanya lima jam. Presiden Rusia Vladimir Putin, sekutu Presiden Suriah Bashar al-Assad, memerintahkan "jeda kemanusiaan" setiap hari, mulai pukul 09.00 hingga 14.00, di daerah yang dikepung ketat sejak awal bulan lalu itu. Jeda itu untuk memberi warga Ghouta kesempatan keluar dari kota tersebut serta memuluskan jalan bagi bantuan kemanusiaan untuk menjalankan tugasnya.

Gencatan senjata lima jam yang disampaikan Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu pada Senin pekan lalu itu tak terwujud. "Bom dan tembakan artileri tidak berhenti meskipun ada janji Rusia untuk menerapkan gencatan senjata lima jam sehari," kata Deana Lynn, perempuan Amerika Serikat yang tinggal di Ghouta, dalam wawancara melalui video di ruang persembunyian bawah tanah di rumahnya, kepada NBC, Kamis pekan lalu.

Berlanjutnya pengeboman dan pertempuran itu membuat sekitar 400 ribu orang masih terkepung dan kesulitan mendapatkan bantuan. Korban perang di Ghouta memperpanjang jumlah orang yang kehilangan nyawanya akibat perang sipil Suriah yang memasuki tahun ketujuh pada Maret ini. Perang itu telah menewaskan lebih dari 465 ribu warga sipil dan membuat lebih dari 12 juta orang mengungsi. Tentara pemerintah dan pemberontak saling tuding sebagai pihak yang tak mematuhi gencatan senjata.

***

GHOUTA Timur terletak di pinggiran Kota Damaskus. Jaraknya yang hanya sekitar 10 kilometer dari ibu kota Suriah itu membuat pemerintah harus merebut kembali daerah tersebut dari tangan pemberontak, yang menguasainya sejak 2013. Distrik seluas 104 kilometer persegi ini dihuni sekitar 400 ribu warga sipil, yang setengahnya adalah anak-anak.


Tentara pemerintah mengepung Ghouta Timur sejak 2013. Menurut Aron Lund, analis Suriah, kepada IRIN, media Kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan, kota ini dikuasai dua pemain besar: kelompok salafi Tentara Islam dan kelompok yang berafiliasi ke Tentara Pembebasan Suriah (Failaq al-Rahman). Ada juga faksi yang lebih kecil, yaitu Ahrar al-Sham dan Tahrir al-Sham. Dua kelompok terakhir ini merupakan cabang Al-Qaidah.

Tekanan terhadap kota itu menguat setelah jet Rusia, Su-25, ditembak jatuh kelompok pemberontak di atas Kota Idlib, 3 Februari lalu. Jet itu ditembak dengan rudal antipesawat Igla karena memberikan dukungan udara kepada tentara pemerintah yang menyerang Kota Saraqeb. Pilotnya berhasil keluar saat pesawatnya ditembak, tapi tidak selamat. Menurut pemerintah Rusia, sang pilot tewas akibat kontak senjata dengan pemberontak. Menurut pemberontak, pilot sudah tewas saat keluar dari pesawat.

Sehari setelah jatuhnya pesawat itu, tentara pemerintah Bashar al-Assad, dengan dukungan Rusia, melancarkan serangan ke Ghouta. Setelah itu, serangan terus meningkat untuk memaksa para pemberontak keluar. Serangan itu berpuncak pada 19 Februari, yang menyebabkan sebagian Ghouta menjadi puing-puing dan ratusan orang tewas. Menurut Pusat Pemantau Hak Asasi Manusia Suriah, 127 anak termasuk di antara 513 orang yang tewas dalam serangkaian pengeboman beruntun itu.

Amnesty International menyebut tindakan Suriah itu sebagai kejahatan perang. Selain menewaskan perempuan dan anak-anak, pengeboman itu menghancurkan enam rumah sakit dan pusat medis di seluruh kota. Badan dunia UNICEF juga mengecam serangan itu. Dalam siaran persnya, UNICEF membuat 10 baris kosong, dengan catatan kaki penjelasan: "Kami tidak lagi memiliki kata-kata untuk menggambarkan penderitaan anak-anak dan kemarahan kami."

Dewan Keamanan PBB menggelar sidang soal Suriah pada 24 Februari lalu untuk mendorong gencatan senjata selama 30 hari agar orang dapat mengungsi dan bantuan kemanusiaan bisa diberikan. Meski menyetujui gencatan senjata, resolusi tersebut memberi pengecualian bahwa itu tidak berlaku untuk serangan terhadap kelompok teroris yang berafiliasi dengan Al-Qaidah. Resolusi tersebut disahkan pada Ahad pekan lalu.

Resolusi PBB tak menghentikan pertempuran. Menurut Reuters, salah satu sebabnya, resolusi tersebut tidak menetapkan tanggal kapan gencatan senjata harus dilakukan. Rusia, meski mendukung resolusi, akhirnya memerintahkan gencatan senjata lima jam sejak Selasa pekan lalu, yang juga akhirnya tidak terlaksana.

Suriah menuding pemberontak melanggar gencatan senjata karena, menurut koran Al-Watan, mereka melepaskan tembakan ke arah Damaskus, yang menyebabkan 9 orang tewas dan 49 terluka. Kantor berita Suriah, SANA, menuding pemberontak menggunakan warga sipil sebagai tameng manusia dan menembakkan roket ke "koridor aman" yang seharusnya memungkinkan adanya evakuasi warga sipil.

Alina Jazeera Zeina Khodr, yang melaporkan dari Beirut, memuat bantahan pemberontak. "Mereka (pemberontak) menyangkal hal ini dengan mengatakan mereka tidak mengebom koridor dan orang tidak ingin pergi karena mereka tidak memiliki jaminan keamanan dan tidak ada pemantau internasional," kata Khodr. "Yang diinginkan orang adalah gencatan senjata yang langgeng."

Tak dipatuhinya resolusi PBB dan gencatan senjata lima jam itu memperburuk pasokan makanan dan air bagi warga Ghouta. Akhir tahun lalu, PBB melaporkan bahwa hampir 12 persen anak balita di daerah itu menderita kekurangan gizi-angka tertinggi yang tercatat sejak awal perang. "Bantuan PBB tidak ada karena rezim Assad mencegah mereka memasuki Ghouta Timur," ucap Amar al-Bashy, warga Ghouta.

Pengepungan itu, kata Al-Bashy, membuat warga tak lagi bisa makan tiga kali sehari. Kebanyakan orang sekarang sudah beruntung bisa makan sekali sehari. Untuk kebutuhan air, menurut dia, mereka bergantung pada sumur yang mereka ambil dari tanah. "Kami tahu tidak aman, tapi tidak ada pilihan lain," ujarnya kepada Middle East Eye.

Menurut New York Times, pengepungan dan pengeboman itu membuat rakyat lebih banyak menghabiskan waktunya di ruang bawah tanah. Di beberapa bagian pinggiran kota yang luas, ruang bawah tanah dihubungkan oleh terowongan. "Orang-orang di sini bersembunyi dari pengeboman besar-besaran," kata aktivis media lokal, Firas Abdullah, yang memfilmkan suasana di terowongan dan ruang bawah tanah itu.

Banyak yang melihat ruang bawah tanah sebagai satu-satunya tempat berlindung dari pengeboman. Mereka keluar setelah serangan berakhir. Bagi Shadi Jad, seorang ayah muda yang berada di ruang bawah tanah sejak awal pekan ini, "Saya merasa tempat penampungan itu kuburan, tapi itu satu-satunya perlindungan yang tersedia."

Hoda Khayti, warga Ghouta lainnya, mengungkapkan hal yang sama. Ia bersama keluarga dan tetangganya menghabiskan sebagian besar waktunya di ruang bawah tanah. Dua belas keluarga lainnya bergabung dengan mereka di satu tempat sempit. "Saat-saat paling menakutkan adalah ketika roket mendarat kemudian disusul oleh suasana sunyi," ujar Khayti, seperti dilansir New York Times. "Jiwa saya seperti meninggalkan tubuh saat pesawat mendekat dan lega setelah bunyi pesawat itu hilang."

Di dalam ruang bawah tanah, kata Khayti, mereka berbagi makanan, selimut, dan cerita sambil menunggu suara pesawat di atas kepala berhenti. Ia kadang ragu menuju ruang bawah tanah karena takut terjebak. Sering dia bertahan berada di rumah keluarga, sementara orang tua dan saudara perempuannya pergi ke tempat penampungan. "Saya tidak ingin mati di ruang bawah tanah," ujarnya. Khayti mengalami trauma setelah ada sebuah keluarga meninggal di ruang bawah tanah sepekan sebelumnya.

Abdul Manan (al Jazeera, Deutsche Welle, Nbc News)

Majalah Tempo, 04 Maret 2018

No comments: