Monday, August 07, 2017

Potret Lain Hemingway

Buku Writer, Sailor, Soldier, Spy: Ernest Hemingway’s Secret Adventures karya Nicholas Reynolds, yang menceritakan sisi lain kehidupan sastrawan kenamaan Amerika Serikat, Ernest Hemingway, cukup mengejutkan banyak pembaca. Buku ini mengingatkan pada novel Tinker, Tailor, Soldier, Spy karya John le Carré. Ada kemiripan dalam judul dan tema, tapi keduanya berbeda.


Novel John le Carré yang terbit pada 1974 itu adalah fiksi, meski inspirasi ceritanya konon berasal dari perburuan di kalangan internal badan intelijen Inggris, MI6, setelah terjadi sejumlah kebocoran informasi. Buku Reynolds adalah nonfiksi tentang sisi kehidupan Hemingway yang selama ini tersembunyi dari mata publik.

Setelah melakukan riset selama tiga tahun, dalam buku yang diterbitkan pada Maret lalu itu, Reynolds, mantan perwira intelijen di dinas rahasia Amerika Serikat, Central Intelligence Agency (CIA), mengaku mendapatkan data bahwa pemenang Hadiah Nobel Sastra itu pernah terlibat dalam dunia mata-mata. Salah satu temuan paling mengejutkan, bahkan bagi Reynolds sendiri, adalah soal Hemingway pernah direkrut sebagai agen Narodnyi Komissariat Vnutrennikh Del (NKVD), pendahulu badan intelijen Rusia, Komitet Gosudarstvennoy Bezopasnosti (KGB).

Tak lama setelah buku Reynolds itu terbit, reaksi media cukup beragam. The Wall Street Journal edisi 11 Maret menulis "Hemingway Was a Spy". New York Times memuat resensi berjudul "The Great American Novelist Who Spied for the Soviets" dalam edisi 24 Maret. History.com edisi 29 Maret menulis "Was Ernest Hemingway a Spy?". "Informasi itu mengagetkan," kata Remy Sylado, Selasa pekan lalu. Remy adalah penulis Namaku Mata Hari, novel yang terilhami kisah Margaretha Geertruida Zelle alias Mata Hari, perempuan kelahiran Belanda yang dituding menjadi mata-mata Jerman sehingga dieksekusi mati Prancis di masa Perang Dunia II.

***

Semuanya bermula pada 2010. Pada tahun itu, Reynolds masih bekerja sebagai sejarawan di Museum CIA, di Langley, Virginia, Amerika Serikat. Reynolds diberi tugas mengumpulkan file soal Office of Strategic Service (OSS), organisasi pendahulu CIA. Saat itu ia teringat pada sebuah cerita yang ia baca sebelumnya soal kedekatan Hemingway dan Colonel David K.E. Bruce. Keduanya disebut pernah membebaskan sebuah bar di Hotel Ritz, Paris, dari Jerman. Hal itu terjadi pada 25 Agustus 1944, saat keduanya tiba di Paris, ketika sebagian kota masih dipertahankan Jerman dan belum sepenuhnya jatuh ke tangan tentara Sekutu. Saat itu Bruce memimpin OSS Wilayah Eropa sebelum menjadi diplomat Amerika di sejumlah negara.

Informasi soal kedekatan Bruce dan Hemingway memicu rasa ingin tahu Reynolds. Itu yang menuntunnya melakukan pencarian ke sejumlah perpustakaan di Amerika, termasuk ke laci-laci file rahasia CIA. Sekitar tiga tahun kemudian, ia mengaku mendapatkan data bagaimana Hemingway, sebagai jurnalis, terlibat dalam kegiatan berbau spionase. Termasuk soal dia "menandatangani kontrak" dengan NKVD itu.

Salah satu yang membuat nama Hemingway masuk radar badan intelijen Soviet adalah tulisannya mengenai bencana angin topan pada September 1935 yang menghantam Matecumbe Key, Florida, Amerika, dan menewaskan 458 orang. Tulisan itu muncul di New Masses, media yang diterbitkan kelompok kiri Amerika. Berita yang nadanya mengkritik pemerintah Roosevelt itu dimuat pula di Daily Worker, koran milik organisasi Partai Komunis Amerika, dan kemudian diterjemahkan ke bahasa Rusia. Itulah yang kemudian menarik perhatian Direktorat Satu NKVD.

Direktorat Satu NKVD adalah bagian dalam badan intelijen Soviet yang bertugas mencuri rahasia teknologi dan memahami-kalau bisa mempengaruhi-politik luar negeri Amerika. Direktorat ini membawahkan agen Soviet di kota-kota besar dunia, yang biasa disebut sebagai rezidentura. Karena itulah Rusia selalu mencari peluang untuk merekrut orang Amerika yang punya akses terhadap informasi yang diinginkannya.

Pada tahap awal, intelijen Soviet biasanya mengumpulkan informasi tentang target itu melalui rezidentura. Di Amerika, rezidentura bekerja erat dengan Partai Komunis dan mengandalkan berita New Masses atau Daily Worker sebagai rujukan, karena dipercaya sebagai refleksi akurat politik negara itu. Ketika membaca artikel Hemingway itu, perwira NKVD yakin publik Amerika akan menerima pernyataan politik penulis yang dihormati tersebut. Saat itu Hemingway sudah menghasilkan banyak karya, antara lain The Sun Also Rises (1926), A Farewell to Arms (1929), Death in the Afternoon (1932), dan Green Hills of Africa (1935).

Reynolds, dalam bukunya, tak menemukan info kapan persisnya NKVD memutuskan merekrut Hemingway. Ia yakin keputusan itu dilakukan antara Oktober dan Desember 1940. Keyakinan itu banyak bersandar pada dokumen catatan tangan yang dibuat Alexander Vassiliev. Mantan perwira KGB ini pernah membaca file soal Hemingway di dalam arsip KGB, pada awal 1990-an.

Bertolak dari dokumen Vassiliev tersebut, Reynolds menyajikan fakta Hemingway pernah berkenalan dengan salah satu tokoh gerakan Bolshevik kelahiran Ukraina bernama Jacob Golos. Jacob Golos menjadi warga negara Amerika sejak 1915. Saat Bolshevik menguasai Rusia, Golos tetap di Amerika dan menjadi anggota pertama Partai Komunis Amerika. Pada 1932, Golos menjadi Kepala World Tourist Inc, salah satu perusahaan penyamaran Soviet di Amerika. Badan itu seperti agen perjalanan, tapi tujuan utamanya adalah sebagai pendukung kegiatan mata-mata Soviet.

Menurut Reynolds, tak ada orang di Barat yang tahu pasti siapa yang mengenalkan Golos kepada Hemingway. Ia menaksir ada tiga orang yang mungkin mengenalkannya. Salah satunya Joe North, simpatisan komunis yang tinggal di New York. Kemungkinan lain adalah John Herrmann, teman Hemingway yang anggota Partai Komunis Amerika.

Kemungkinan terakhir, dan ini yang paling mungkin, adalah Joris Ivens. Ia adalah pembuat film, kader Komunis dari Belanda. Ivens pada saat perang sipil di Spanyol memperkenalkan Hemingway kepada para pejuang komunis yang bersama-sama kelompok Republik melawan Nasionalis. Pada 1937, seperti kita ketahui, Hemingway meliput perang saudara di Spanyol yang pecah antara kaum Nasionalis dan Republik. Nasionalis-sebutan untuk pemberontak yang dipimpin Jenderal Franco-mendapat bantuan dari pemerintah Fasis Italia dan Nazi Jerman. Sedangkan pemerintah yang sah-disebut sebagai kelompok Republik-mendapat bantuan dari Uni Soviet dan Brigade Internasional, yang terdiri atas sukarelawan asal Eropa dan Amerika Serikat.

Ivens terdeteksi keluar-masuk New York mulai 1939 sampai 1941. Entah melalui Ivens entah orang lain, yang pasti, menurut Reynolds, Golos pernah bertemu dengan Hemingway pada satu waktu di akhir 1940, di New York. "Tujuan Golos adalah merekrut Hemingway untuk NKVD," kata Reynolds. Pertemuan tersebut terjadi di sebuah restoran kecil di Second Avenue, sebuah jalan di sisi timur Kota New York. Ada kemungkinan tempat pertemuannya adalah ruang belakang atau setidaknya di pojok sepi, tempat mereka dapat berbicara.

Golos-seperti disajikan dalam dokumen Vassiliev tersebut-menurut Reynolds, kemudian tercatat melapor ke Moskow soal pertemuannya dengan Hemingway itu. Reynolds mengatakan di dalam arsip itu juga terdapat kawat rahasia dari New York ke Moskow. Kawat itu berbunyi: "Sebelum dia pergi ke Cina, (Hemingway) sudah direkrut untuk kerja kita dengan basis kesamaan ideologi." Hemingway pada 1941 diketahui bersama Martha Gellhorn, wartawan majalah Collier yang bersama Hemingway meliput perang sipil Spanyol (kemudian menjadi istri ketiga Hemingway), berangkat ke Cina untuk meliput situasi Cina yang tengah menghadapi invasi Jepang.

Dalam bahasa intelijen, kata Reynolds, redaksional seperti itu menandaskan bahwa Hemingway sudah menerima proposal untuk masuk ke hubungan rahasia dengan Soviet. Pengertian kesamaan ideologi berarti dia setuju dengan agenda Soviet, sebagian atau seluruhnya, dan tidak ada permintaan uang atau kompensasi bentuk lain. Kata-kata dalam dokumen itulah yang membuat Reynolds mengesampingkan kemungkinan Hemingway bekerja sama karena diperas atau berada di bawah paksaan. "Tidak ada yang mau melakukan pekerjaan berbasis ideologi dengan paksaan, khususnya untuk orang seperti Hemingway," kata Reynolds.

Dokumen Vassiliev itu tak berbicara soal apa tugas khusus Hemingway. Tapi dalam dokumen itu disebutkan Golos juga menyarankan agen NKVD bisa menemui Hemingway, entah di Cina atau kalau bisa di Soviet. Golos menulis dalam dokumen itu bahwa dia mempersiapkan Hemingway untuk bertemu dengan orang NKVD di luar Amerika. Golos menyatakan, "Saya yakin dia akan bekerja sama dengan kita dan... melakukan semua yang ia bisa."

Bagi Reynolds, kata-kata Golos yang tercatat dalam dokumen tersebut, yang menyebut langsung nama Hemingway daripada nama sandi, menunjukkan bahwa hubungan rahasia itu masih baru. NKVD baru memberi nama sandi "Argo" untuk Hemingway pada 1941. Selama ini intel Soviet menggunakan nama sandi untuk mata-mata yang direkrutnya. Namanya sering menyesuaikan dengan orangnya. Argo dalam mitologi Yunani adalah nama kapal yang dipakai Jason dan Argonauts dalam mencari petualangan.

***

Hipotesis Hemingway direkrut Soviet memang hanya mendasarkan diri pada dokumen Vassiliev, atau yang kemudian dikenal sebagai Notebook Vassiliev. Itu adalah kumpulan delapan notebook berisi kutipan dari dokumen NKVD. Vassiliev meringkas atau menyalin kutipan itu dalam bahasa Rusia dari dokumen arsip KGB untuk The Haunted Wood: Spionase Soviet di Amerika-Era Stalin, buku yang diterbitkan Random House pada 1999.

Notebook Vassiliev juga kemudian menjadi bahan buku kedua berjudul Spies: The Rise and Fall of the KGB in America, yang diterbitkan Yale University Press. Vassiliev turut serta menjadi penulis buku itu bersama John Earl Haynes dan Harvey Klehr. Informasi tentang Hemingway sebagai agen bersandi "Argo" ada sebanyak empat halaman dari buku setebal 650 halaman itu. Buku catatan asli Vassiliev kini disimpan di Library of Congress.

Dalam wawancara dengan CBS News, Reynolds mengatakan Hemingway juga memberikan seperangkat prangko kepada Golos. "Hemingway mengatakan, ’Jika saya harus menemui orang yang tidak saya ketahui, Anda ambil prangko ini. Dan ketika orang itu datang menemui saya, dia bisa mengautentikasi dirinya dengan menunjukkan prangko itu kepada saya.’"

Rujukan Reynolds kepada hanya dokumen Vassiliev membuat bukunya tidak mudah diverifikasi. "Bisa saja Badan Intelijen Stalin itu melebih-lebihkan hubungannya dengan Hemingway," kata penyair Goenawan Mohamad. Namun, ia mengingatkan, dalam melihat sikap Hemingway, orang harus melihat konteks politik perang Spanyol. "Wajar jika Hemingway berada dalam semangat ’kiri’. Bukan hal mengejutkan jika gerakan Komunis Internasional, yang sangat aktif dalam mendukung pejuang komunis Spanyol, mendekatinya."

Remy Sylado menyatakan salah satu yang membuat Hemingway didekati ada kemungkinan karena ini: "Dia seorang wartawan. Bisa saja orang mau memakai dia untuk memanfaatkan penciuman politiknya yang tajam." Penulis buku Hemingway lainnya, Terry Mort, tak bisa berkomentar mengenai temuan baru itu. "Saya belum baca buku Reynolds, jadi saya tidak bisa berkomentar soal itu," kata Terry melalui e-mail, 1 Juli lalu. Terry adalah penulis buku The Hemingway Patrols: Ernest Hemingway and His Hunt for U-Boats (2009) dan Hemingway at War: Ernest Hemingway’s Adventures as a World War II Correspondent (2016).

Tak adanya dokumen pendukung lain soal temuan ini, kecuali dokumen Narodnyi Komissariat Vnutrennikh Del (NKVD), bisa membuat pembaca menganggap informasi Reynolds sumir. Tapi Reynolds dalam bukunya tetap berusaha mencari dukungan data sekunder lain. Ia, misalnya, menyajikan data bahwa sebelum berangkat ke Cina, Hemingway bertemu dengan Menteri Keuangan Amerika Serikat Henry Morgenthau dan orang keduanya, Harry D. White. Petinggi kementerian keuangan ini meminta Hemingway mempelajari kesulitan dan mencari informasi tentang kelompok Komunis-Kuomintang. Menurut Reynolds, White dan Morgenthau ingin Hemingway pergi ke Cina untuk misi pencari fakta.

Bagi Reynolds, ini adalah praktik umum sebagai pendahuluan untuk melakukan mata-mata. Sebab, hal itu juga dialami William J. Donovan, pengacara top New York pada 1940-an. Saat itu ia diminta memberi laporan soal kekuatan Inggris menghadapi Jerman kepada Kementerian Angkatan Laut dan Presiden Amerika ketika ia bepergian ke London. Donovan kemudian menjadi direktur pertama OSS, organisasi mata-mata yang dibentuk pada 13 Juni 1942.

Menurut Reynolds, persinggungan Hemingway dengan dunia mata-mata lain adalah saat di Kuba. Pada 1942, Hemingway menyampaikan idenya kepada Duta Besar Amerika di Havana, Spruille Braden, membuat proyek kontraintelijen, yang tugasnya mengawasi orang-orang fasis dan intelijen Jerman di Kuba. Proyek itu diberi nama The Crook Factory.

Buku Reynolds membuat orang mengetahui sisi lain kehidupannya. Namun, seperti kata Remy Sylado, "Itu tidak akan mempengaruhi pembacanya." Sapardi Djoko Damono punya pandangan sama. "Bagi saya, keterlibatannya dalam ’politik’ sebagai mata-mata, terluputnya dia beberapa kali dalam kecelakaan, dan hubungannya dengan para perempuan sama sekali tidak berpengaruh atas apresiasi saya terhadap karya-karyanya," ujar penyair yang pernah menerjemahkan karya Hemingway berjudul The Old Man and the Sea itu.

Abdul Manan

Majalah Tempo, Rubrik Iqra, 7 Agustus 2017

No comments: