Sunday, July 26, 2015

Jalur Sutera Han Muda

Jiang Min, perempuan yang tumbuh di Cina timur, selalu merindukan sebuah epik perjalanan di sepanjang Jalur Sutera (Silk Road) kuno yang melintasi pegunungan, gurun terpencil, bazaar yang sibuk, dan kota yang bangunannya dari bata lumpur. Auditor di lembaga keuangan di Shanghai itu menjelajahi bagian dari jalur eksotis itu beberapa tahun lalu dan ia berencana menelusurinya kembali tahun ini.


Tapi, Jiang punya memori buruk atas ekspedisinya itu. "Dalam ingatan saya, Jalur Sutera adalah jalan yang penuh petualangan serta 'siksaan' dalam berbagai cara: jalannya bergelombang, restoran dan penginapan lusuh di sepanjang perjalanan, dan toiletnya yang bau," kata perempuan 27 tahun itu, seperti dilansir Chinanews.com Selasa pekan lalu. "Ibuku mengolok-olok saya karena menghabiskan uang untuk menikmati penderitaan."

Jalur Sutera, disebut "Silu" dalam bahasa Cina, adalah nama populer untuk jalur transportasi strategis kuno yang bermula dari Cina, lantas melewati Asia Tengah, Asia Barat, dan Afrika, dan menuju Eropa. Jalur perdagangan yang dirintis sejak era Dinasti Han (206SM-220M) itu dimulai dari ibukota kekaisaran dinasti Han di Chang' an (kini Xian), melintasi Xinjiang, lalu menuju Eropa.

Para pejabat Cina menyadari keluhan para pelesir seperti Jian dan yakin tahun-tahun berikutnya banyak hal yang akan berubah dan memori buruk semacam itu tak akan ditemui lagi. Sebab, daerah di sepanjang rute itu akan diguyur uang miliaran untuk pengembangan pariwisata, sebagai bagian dari kesempatan yang diberikan oleh Inisiatif "One Belt, One Road", nama resmi dari revitalisasi 'Jalur Sutera Baru' pemerintah Cina di bawah kepemimpinan Xi Jinping.

Inisiatif untuk memulihkan kejayaan jalur perdagangan legendaris itu dikemukakan Xi dalam sebuah kunjungan ke Kazakhstan dua tahun lalu. Penguasa Cina kelahiran Beijing, 15 Juni 1953 itu, yang disebut sebagai 'Han muda' karena upayanya menghidupkan jalur perdagangan strategis lama, menyampaikan bahwa Cina dan negara di Asia Tengah perlu bekerjasama membangun apa yang kemudian dikenal sebagai 'One Belt, One Road Initiative.' "Itulah pertama kalinya pemimpin Cina itu menyinggung visi strategisnya itu," tulis Xinhua.net.

Inisiatif itu, yang dijuluki sebagai "Jalur Sutera Baru" meliputi dua hal: Jalur Sutra Sabuk Ekonomi dan Jalur Sutra Maritim Abad 21. Proyeknya meliputi pembangunan jaringan kereta api, jalan raya, jaringan pipa minyak dan gas, jaringan listrik, jaringan internet, link infrastruktur maritim dan lainnya, yang akan menyatukan Cina dengan negara tetangganya. Jaringan itu akan menghubungkan sekitar 4,4 miliar orang atau sekitar 63 persen populasi dunia.

Jalur perdagangan itu akan menghubungkan Cina dengan Asia Tengah, Rusia, dan Eropa (Baltik), mengkoneksikan Cina dengan Teluk Persia dan Laut Mediterania melalui Asia Tengah dan Samudera Hindia. Sedangkan Jalur Sutra Maritim Abad 21 dirancang akan bermula dari pantai Cina menuju Eropa melalui Laut Cina Selatan dan Samudera Hindia di satu rute, dan dari pantai Cina melalui Laut Cina Selatan ke Pasifik Selatan di sisi lainnya.

Chi Lo, ekonom senior BNP Paribas Investment Partners, dalam South China Morning Post edisi 30 Juni 2015 mengatakan, rencana Xi adalah menghubungkan Asia, Afrika dan Eropa dengan investasi dalam proyek-proyek infrastruktur dengan menggunakan sumber daya keuangan yang luas, termasuk US$ 40 miliar Silk Road Fund, US$ 100 miliar dari Asia Infrastructure Investment Bank (AIIB), dan US$ 50 miliar dari Development Bank New (NDB).

Berbicara di sela-sela acara tingkat tinggi di Kota Boao, Cina, 29 Maret lalu, Xi menyebut inisiatif itu akan merangsang perdagangan dan investasi antara Cina dan negara-negara di sepanjang rute kuno itu. "Kami berharap bahwa volume perdagangan tahunan antara Cina dan negara-negara ini melampaui US$ 2,5 triliun dalam satu dekade, atau lebih," kata Xi di depan perwakilan pengusaha Cina dan luar negeri. Sebagai perbandingan, perdagangan Cina dengan Uni Eropa tahun 2013 sebesar US$ 466,1 miliar.

Inisiatif Xi itu, secara kasat mata, akan memperluas akses ekonomi Cina ke sekitarnya. Begitu juga sebaliknya. Menurut Shuaihua Wallace Cheng, direktur lembaga pemikir yang berbasis di Jenewa, International Centre for Trade and Sustainable Development, jalur itu akan membuat Cina memiliki akses yang lebih baik untuk energi dan makanan, dan menjadi kurang bergantung pada rute transportasi yang dikendalikan militer AS. "Sejauh ini, sekitar 80 persen dari impor minyak Cina melalui Selat Malaka, jalur ramai yang di bawah kendali militer AS dan entitas komersial non-Cina," kata Cheng dalam YaleGlobal edisi 28 Mei 2015 lalu.

Dengan jalur baru ini, kata Cheng, Cina bisa melalui Pelabuhan Gwadar Deep Water di Pakistan yang itu akan mempersingkat 85 persen jarak antara Cina dan Eropa, Timur Tengah, dan Afrika, daripada pergi melalui Selat Malaka. Gwadar adalah bagian dari Koridor Ekonomi Cina-Pakistan. Cina telah menandatangani perjanjian investasi senilai US $ 46 miliar --sekitar seperlima dari PDB tahunan Pakistan dan 10 kali investasi Amerika Serikat di Pakistan-- untuk menghubungkan kedua negara dengan kereta api, jalan, jaringan pipa , dan kabel optik.

Pembuatan Jalus Sutera abad modern itu, menurut Chi Lo, merupakan jawaban Beijing dalam menghadapi dua perjanjian perdagangan yang disponsori AS, yaitu Kemitraan Trans-Pasifik (TPP) dan Kemitraan Perdagangan dan Investasi Transatlantic (TTIP). "Dua perjanjian dagang itu tanpa melibatkan Cina dan dianggap sebagai sebagai upaya untuk membendung Cina," ujar Chi Lo.

Sejak 2010, AS telah bekerja sama dengan Korea Selatan, Jepang, Taiwan, Filipina, Australia, dan India dalam upayanya "poros ke Asia." Manuver AS ini menyulitkan Cina untuk memperluas pengaruhnya ke timur dan mendorongnya memikirkan kembali strateginya. "Melalui Jalur Sutera Baru, Beijing memperluas wilayahya ke barat," kata Chi Lo.

Senada dengan Chi Lo, Cheng menyebut inisiatif Xi Jinping ini memang sebagian didorong oleh kebijakan 'Poros ke Asia' Presiden Barack Obama, yang diumumkan tahun 2011. Poros ke Asia itu akan ditandai dengan pemindahan sekitar 60 persen pasukan AS ke Asia pada tahun 2020, yang itu akan menjadi tantangan bagi Cina, dan negosiasi TPP dengan sekutunya. "Dampak de facto dari kebijakan pembendungan ini adalah mencegah Cina memperluas pengaruhnya ke Timur dan Selatan," kata Cheng.

Min Ye, dalam Foreign Policy edisi 10 November 2014 menyebut TPP sebagai strategi ekonomi dan politik nyata untuk "membendung Cina".  Namun Cheng meragukan efektivitasnya. Kapasitas manufaktur Cina, pasar domestik dan cadangan devisa yang cukup besar membuat negara ini bisa membuat lingkaran ekonomi sendiri. Banyak negara juga tak mendukung langkah AS untuk membendung Cina. "Meskipun ada peringatan AS untuk tak bergabung dengan AIB, kebanyakan negara besar, 57, mengajukan aplikasi sebagai anggota pendiri AIB," tulis Wallace.

Menurut Reuters,  proyek 'Jalan Sutera' baru dan AIB (sebagai bank penyokongnya) menjadi tantangan langsung terhadap AS yang mendominasi lembaga keuangan dan perdagangan di kawasan ini, termasuk di Dana Moneter Internasional (IMF), Bank Dunia, dan Bank Pembangunan Asia. Menurut Reuters edisi 12 November 2014, diplomat AS melakukan manuver mati-matian untuk membatasi dampak dari diplomasi ekonomi Cina itu.

Menteri Luar Negeri China Wang Yi menolak perbandingan Jalur Sutera baru ini dengan Marshall Plan, inisiatif Amerika dengan memberikan uang sekitar US$ 13 miliar untuk membangun kembali ekonomi Eropa setelah Perang Dunia II berakhir. Menurut Wang Yi seperti dikutip kantor berita Xinhua, One Belt, One Road Initiative ini adalah "produk dari kerjasama yang inklusif, bukan alat geopolitik, dan tidak boleh dilihat dengan 'mentalitas usang' Perang Dingin."

ABDUL MANAN (XINHUA.NET, ECNS.CN, FOREIGN POLICY, REUTERS)

Tulisan ini dimuat di Majalah Tempo edisi 26 Juli 2015. Versi .pdf bisa dibaca di sini.

No comments: