Skip to main content

Korespondensi Pribadi Thatcher dan Eks Agen KGB Dibuka

Arsip Nasional Inggris beberapa minggu lalu merilis bagian dari korespondensi pribadi antara Perdana Menteri Inggris Margaret Thatcher dengan Oleg Gordievsky, salah satu mata-mata penting Soviet di era Perang Dingin yang membelot ke Inggris. Dalam suratnya itu, Gordievsky meminta bantuan Sang Perempuan Besi untuk membantu agar ia bisa dipertemukan dengan keluarganya yang masih di Uni Sovyet --kini Rusia.


Gordievsky mulai menjadi agen badan intelijen Uni Sovyet, KGB, tahun 1963. Dia bergabung dengan Direktorat Kedua KGB, yang bertanggung jawab untuk mengkoordinasikan kegiatan orang Sovyet yang menjadi 'ilegal', yaitu petugas intelijen yang beroperasi di luar negeri tanpa perlindungan diplomatik.

Menurut Ian Allen di intelNews.org 2 Januari 2015, pembelotan Gordievsky dipicu oleh kekecewaannya terhadap sistem Soviet tahun 1968 ketika pasukan Pakta Warsawa menyerbu Cekoslowakia. Pada tahun 1974, saat ia ditempatkan di ibukota Denmark, Kopenhagen, ia lantas melakukan kontak dengan badan intelijen Inggris dan memulai karirnya sebagai agen ganda untuk Inggris.

Hanya saja, pada 17 Mei 1985, tak lama sebelum ia mengisi jabatan barunya sebagai kepala stasiun KGB di kedutaan Soviet di London, ia dipanggil ke Moskow oleh induk organisasinya. KGB sepertinya semakin curiga terhadap tindak tanduk agennya ini.

Setibanya di Moskow, Gordievsky diinterogasi secara agresif namun berhasil melewatinya. Ia lantas melakukan kontak dengan intelijen Inggris yang akhirnya kemudian menyelundupkannya keluar dari Rusia melalui Finlandia, dengan cara dimasukkan ke dalam bagasi kendaraan diplomatik Inggris.

Pembelotan Gordievsky diumumkan beberapa hari kemudian oleh Margaret Thatcher, yang secara personal memberi persetujuan atas upaya untuk mengeluarkan eks agen KGB itu keluar dari Uni Soviet.

Dalam file yang dirilis beberapa minggu lalu oleh Arsip Nasional Inggris menunjukkan bahwa Tatcher memberi perhatian secara personal atas kesejahteraan Gordievsky menyusul pembelotannya ke Inggris.

Gordievsky bahkan menulis surat secara pribadi kepada Tatcher untuk melakukan intervensi dan membantunya agar dia bersatu kembali dengan istrinya, Leila, dan dua anak perempuannya, yang saat itu tetap tinggal di Uni Soviet.

Dalam suratnya, yang ditulis pada tahun 1985, Gordievsky kepada Thatcher mengatakan bahwa hidupnya "tidak ada artinya" kecuali ia bisa untuk bersama lagi dengan keluarganya. Pada 7 September 1985, Perdana Menteri Inggris menjawab surat itu dan mendesak dia untuk tidak menyerah. "Tolong jangan katakan bahwa hidup tidak ada artinya lagi," tulisnya. "Selalu ada harapan. Dan kami akan melakukan semua hal untuk membantu Anda melalui hari-hari sulit ini".

Tatcher menambahkan bahwa keduanya harus bertemu sekali saja jika "situasi mendesak" di tengah perhatian media di seluruh dunia disebabkan oleh dikeluarkannya dari Uni Sovyet. Thatcher lantas berbicara secara terbuka kepada Moskow untuk memungkinkan keluarga Gordievsky untuk dibiarkan bersatu "atas dasar kemanusiaan".

Harapan Gordievsky itu baru terlaksana tahun 1991, setelah komunisme Uni Soviet runtuh. Keluarga Gordievsky akhirnya bisa bergabung dengannya di Inggris.

http://indonesiana.tempo.co/read/28791/2015/01/06/a_manan/korespondensi-pribadi-thatcher-dan-eks-agen-kgb-dibuka

Comments

Popular posts from this blog

Tegang dan Depresi karena Sutet

Tim PPLH Unair membuktikan, SUTET berbahaya bagi kesehatan manusia. Dampaknya bervariasi: dari pusing kepala sampai gangguan syaraf.

HIDUP di bawah jaringan listrik tegangan tinggi ternyata tak cuma menegangkan. Anda juga berpotensi mengalami gangguan syaraf. Begitulah kesimpulan penelitian mutakhir yang digelar tim Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Universitas Airlangga (Unair). Laporan yang dirilis akhir bulan lalu di Surabaya menghidupkan kembali kontroversi tentang dampak radiasi elektromagnet dari jaringan itu atas kesehatan manusia. Dan, menjadi "senjata" baru bagi warga Desa Singosari yang memperkarakan Perusahaan Umum Listrik Negara (PLN) ke pengadilan, karena kawasan permukiman mereka dialiri jaringan tersebut.

Tim yang diketuai Direktur PPLH Dr. Fuad Amsyari melakukan penelitian di Desa Singosari, Kecamatan Kebomas, Gresik, Jawa Timur (Ja-Tim). Warga desa itu, sejak tahun 1989 lalu, telah memprotes dan memperkarakan kehadiran jaringan transmisi Saluran Udara…

Anwar Ibrahim: Malaysia Kini Seperti Indonesia Saat Reformasi

Pemimpin oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim, akhirnya menghirup udara bebas setelah mendapatkan pengampunan dari Raja Malaysia Yang di-Pertuan Agong Sultan Muhammad V, Rabu lalu. Hal ini menyusul kemenangan koalisi oposisi Pakatan Harapan dalam pemilu pada 9 Mei lalu, setelah mengalahkan Barisan Nasional yang sudah berkuasa 62 tahun. Pakatan memperoleh 113 kursi, Barisan 79 kursi, Partai Islam se-Malaysia 18 kursi, dan lainnya meraih sisanya. Pakatan mengusung Mahathir Mohamad sebagai perdana menteri ketujuh. Perdana menteri periode 1981-2003 ini pula yang pernah memenjarakannya. Anwar menyatakan masalahnya dengan Mahathir itu sudah selesai. "Biarkan dia memerintah dengan tenang," kata dia dalam wawancara khusus dengan wartawan Tempo, Abdul Manan, di rumahnya di Bukit Segambut, Kuala Lumpur, Malaysia, Sabtu lalu, tiga hari setelah pembebasannya dari penjara.

Yang "Kurang Pas" di Surabaya Post

Surabaya Post berhenti terbit akibat sengketa perburuhan. Toety Azis mengadukan lima karyawannya ke polisi, tetapi ada prospek damai.

BAGI masyarakat Surabaya, membaca Surabaya Post mungkin seperti kebiasaan minum kopi. Terasa ada yang "kurang pas" ketika koran sore satu-satunya di Surabaya itu tidak terbit lagi, sesudah "panutan" di edisi terakhir, 14 Maret. Masih banyak konsumen menanyakan, kapan koran kesayangannya terbit lagi atau kenapa tidak terbit.

"Saya tidak tahu masalahnya. Tapi banyak pembeli yang menanyakan," kata Suhadak, pengecer koran di Jalan Dharmahusada. Suhadak biasanya menjual Surabaya Post 20 eksemplar per, hari. Dengan harga agen Rp 750, ia menjual seharga Rp 1.000. Artinya, ia untung Rp 5.000 hanya dari penjualan Surabaya Post. Sejak koran itu berhenti terbit, penjualan Jawa Pos di kiosnya meningkat, dari 50 menjadi 60 eksemplar per hari.

Mohammad Arif, pedagang Koran eceran di Jalan Karang Menjangan; menyatakan, kini tujuh pelanggan S…