Tuesday, January 06, 2015

Korespondensi Pribadi Thatcher dan Eks Agen KGB Dibuka

Arsip Nasional Inggris beberapa minggu lalu merilis bagian dari korespondensi pribadi antara Perdana Menteri Inggris Margaret Thatcher dengan Oleg Gordievsky, salah satu mata-mata penting Soviet di era Perang Dingin yang membelot ke Inggris. Dalam suratnya itu, Gordievsky meminta bantuan Sang Perempuan Besi untuk membantu agar ia bisa dipertemukan dengan keluarganya yang masih di Uni Sovyet --kini Rusia.


Gordievsky mulai menjadi agen badan intelijen Uni Sovyet, KGB, tahun 1963. Dia bergabung dengan Direktorat Kedua KGB, yang bertanggung jawab untuk mengkoordinasikan kegiatan orang Sovyet yang menjadi 'ilegal', yaitu petugas intelijen yang beroperasi di luar negeri tanpa perlindungan diplomatik.

Menurut Ian Allen di intelNews.org 2 Januari 2015, pembelotan Gordievsky dipicu oleh kekecewaannya terhadap sistem Soviet tahun 1968 ketika pasukan Pakta Warsawa menyerbu Cekoslowakia. Pada tahun 1974, saat ia ditempatkan di ibukota Denmark, Kopenhagen, ia lantas melakukan kontak dengan badan intelijen Inggris dan memulai karirnya sebagai agen ganda untuk Inggris.

Hanya saja, pada 17 Mei 1985, tak lama sebelum ia mengisi jabatan barunya sebagai kepala stasiun KGB di kedutaan Soviet di London, ia dipanggil ke Moskow oleh induk organisasinya. KGB sepertinya semakin curiga terhadap tindak tanduk agennya ini.

Setibanya di Moskow, Gordievsky diinterogasi secara agresif namun berhasil melewatinya. Ia lantas melakukan kontak dengan intelijen Inggris yang akhirnya kemudian menyelundupkannya keluar dari Rusia melalui Finlandia, dengan cara dimasukkan ke dalam bagasi kendaraan diplomatik Inggris.

Pembelotan Gordievsky diumumkan beberapa hari kemudian oleh Margaret Thatcher, yang secara personal memberi persetujuan atas upaya untuk mengeluarkan eks agen KGB itu keluar dari Uni Soviet.

Dalam file yang dirilis beberapa minggu lalu oleh Arsip Nasional Inggris menunjukkan bahwa Tatcher memberi perhatian secara personal atas kesejahteraan Gordievsky menyusul pembelotannya ke Inggris.

Gordievsky bahkan menulis surat secara pribadi kepada Tatcher untuk melakukan intervensi dan membantunya agar dia bersatu kembali dengan istrinya, Leila, dan dua anak perempuannya, yang saat itu tetap tinggal di Uni Soviet.

Dalam suratnya, yang ditulis pada tahun 1985, Gordievsky kepada Thatcher mengatakan bahwa hidupnya "tidak ada artinya" kecuali ia bisa untuk bersama lagi dengan keluarganya. Pada 7 September 1985, Perdana Menteri Inggris menjawab surat itu dan mendesak dia untuk tidak menyerah. "Tolong jangan katakan bahwa hidup tidak ada artinya lagi," tulisnya. "Selalu ada harapan. Dan kami akan melakukan semua hal untuk membantu Anda melalui hari-hari sulit ini".

Tatcher menambahkan bahwa keduanya harus bertemu sekali saja jika "situasi mendesak" di tengah perhatian media di seluruh dunia disebabkan oleh dikeluarkannya dari Uni Sovyet. Thatcher lantas berbicara secara terbuka kepada Moskow untuk memungkinkan keluarga Gordievsky untuk dibiarkan bersatu "atas dasar kemanusiaan".

Harapan Gordievsky itu baru terlaksana tahun 1991, setelah komunisme Uni Soviet runtuh. Keluarga Gordievsky akhirnya bisa bergabung dengannya di Inggris.

http://indonesiana.tempo.co/read/28791/2015/01/06/a_manan/korespondensi-pribadi-thatcher-dan-eks-agen-kgb-dibuka

No comments: