Tuesday, May 20, 2014

AS Dakwa Warga Cina dengan Cyber Espionage

Washington - Juri di Pengadilan Amerika Serikat mendakwa lima orang berwarganegaraan Cina dengan dakwaan spionase di dunia siber karena diduga menargetkan enam perusahaan Amerika dan mencuri rahasia dagangnya.

Para hacker itu menargetkan perusahaan-perusahaan AS yang bergerak dalam bidang nuklir, produk logam dan tenaga surya,  mencuri informasi yang berguna bagi pesaingnya di Cina, kata Departemen Kehakiman AS, Senin 19 Mei 2014.

Perusahaan-perusahaan yang ditargetkan angtara lain Alcoa Inc., United States Steel Corp, Allegheny Technologies Inc , Westinghouse Electric Co, dan SolarWorld AG. Hacker juga menargetkan United Steel, Paper and Forestry, Rubber, Manufacturing, Energy, Allied-Industrial and Service Workers International Union (USW).

Rincian lebih lanjut dari dakwaan ini akan disampaikan dalam konferensi pers oleh Jaksa Agung Eric Holder, Senin petang waktu setempat.

Frank Cilluffo, Kepala Homeland Security Policy Institute di Universitas George Washington mengatakan, langkah ini menunjukkan bahwa Departemen Kehakiman memiliki bukti dan mereka akan membawanya ke muka sidang.

Para pejabat Amerika telah lama khawatir tentang para peretas dari luar negeri, terutama Cina. Kabel rahasia Departemen Luar Negeri AS yang diperoleh WikiLeaks menunjukkan pelacakan dari penerobosan sistem yang mengarah ke Cina, kata laporan Reuters tahun 2011. Satu kabel tahun 2009 menunjukkan bahwa serangan itu berasal dari unit tertentu dari Tentara Pembebasan Rakyat Cina.

Dakwaan ini, bagaimanapun, adalah simbolis. Tetapi, langkah itu akan mencegah orang yang didakwa dengan kasus ini melakukan perjalanan ke Amerika Serikat atau negara lain yang memiliki perjanjian ekstradisi dengan Amerika Serikat.

Beberapa ahli keamanan cyber mengatakan, langkah Amerika Serikat ini menunjukkan keseriusannya menangani masalah peretasan. "Ini mengirimkan pesan yang kuat kepada Cina," kata James Lewis, partner senior di Center for Strategic and International.

Analis lainnya tetap skeptis langkah itu akan menghalangi invasi Cina di dunia maya. "Ini tidak akan memperlambat langkah Cina," kata Eric Johnson, seorang ahli teknologi informasi di Vanderbilt University dan dekan School of Management.

REUTERS | ABDUL MANAN

No comments: