Skip to main content

Chomsky Serukan Perlawanan terhadap Spionase NSA

Massachusetts - Meluasnya program pengawasan yang dilakukan badan intelijen Amerika Serikat, National Security Agency (NSA), menghadapkan masyarakat pada dua pilihan yakni melawan atau ikut terlibat dalam dalam kegiatan spionase itu, kata Noam Chomsky, filsuf dan profesor linguistik dari Massachusetts Institute of Technology (MIT).

Dalam diskusi panel yang diselenggarakan di kampus MIT, Cambridge, Jumat, 15 November 2013, Chomsky mengingatkan bahwa kebebasan yang dinikmati warga negara Amerika Serikat saat ini "bukan hadiah dari orang yang di atas". "Kebebasan ini dimenangkan oleh perjuangan masyarakat luas," kata Chomsky.

Soal pejabat AS yang mengutip bahwa 'keamanan nasional' disebut sebagai alasan untuk melakukan program pengawasan di dalam negeri, Chomsky mengatakan, argumen yang sama juga digunakan oleh "kebanyakan sistem mengerikan" lainnya dalam sejarah, seperti polisi rahasia Stasi di bekas Jerman Timur.

"Perbedaan kita dengan negara-negara totaliter adalah warga di sana tidak bisa melakukan banyak hal terhadap hal itu," kata Chomsky. "Jika kita tidak mempersoalkan penggunaan alasan keamanan dan memisahkan bagian-bagian yang sah dengan yang tidak sah, maka kita (juga sebenarnya) terlibat."

"Kita bisa yakin bahwa setiap sistem kekuasaan akan mencoba menggunakan teknologi terbaik yang tersedia untuk mengontrol dan mendominasi dan memaksimalkan kekuatan mereka," kata Chomsky. "Kita juga bisa yakin ... bahwa mereka ingin melakukannya secara rahasia."

Apa yang dibutuhkan saat ini adalah "adanya perdebatan serius tentang garis batas" ketika bicara soal program pengawasan atau spionase yang dilakukan pemerintah, kata wartawan investigasi dari Washington Post, Barton Gellman, dalam forum yang sama dengan Chomsky. Gellman adalah salah satu wartawan yang menerima bocoran dokumen program rahasia NSA dari eks analis lembaga itu, Edward Snowden.

Gellman mengatakan, ada perbedaan penting antara kegiatan pengawasan yang dilakukan AS dan langkah sama yang dilakukan Stasi. "Stasi diketahui sengaja dan untuk membungkam para penentangnya," katanya. "Saya tidak berpikir bahwa apa yang kita lihat di (AS) sini sama seperti itu."

Gellman mengatakan, smartphone adalah perangkat pelacakan yang sangat baik. "Mulai dari lokasi saya, dengan siapa saya berkomunikasi, apa yang saya cari," katanya sambil menunjukkan perangkat komunikasi pintarnya. "Saya membayar ke Verizon Wireless $ 1.000 per tahun untuk ini."

Gellman menambahkan, meskipun perusahaan telekomunikasi mendapatkan uang dengan cara menjual informasi pribadi pengguna telepon kepada pihak ketiga, pada saat yang sama NSA tidak bisa melakukan bagian dari tugasnya secara efisien jika perusahaan tidak menjual dan mempertahankan data pelanggannya.

Keterangan dari perusahaan telekomunikasi dan persyaratan layanan juga memang membatasi manfaat yang bisa didapat. "Umumnya, persyaratan layanan tertulis dengan mengatakan bahwa mereka bisa melakukan apa pun yang mereka inginkan, dalam banyak kata," kata dia. Bahkan meski pelanggan membacanya dengan saksama dan punya catatan yang sedang dibuat, kata Gellman, "Anda tidak memiliki cara untuk memantau apa yang mereka lakukan."

Belum jelas berapa banyak lagi pengungkapan di media dari bahan yang diberikan Snowden kepada Gellman dan wartawan lainnya di seluruh dunia. Menurut taksiran NSA, Snowden konon sudah membocorkan hingga 200.000 dokumen rahasia kepada wartawan, yang sebagian besar berlabel "sangat rahasia". "Soal dokumen Snowden ini masih jauh dari selesai," kata Gellman.

PCWORLD | ABDUL MANAN

TEMPO.CO | MINGGU, 17 NOVEMBER 2013 | 13:55 WIB

Comments

Popular posts from this blog

Tegang dan Depresi karena Sutet

Tim PPLH Unair membuktikan, SUTET berbahaya bagi kesehatan manusia. Dampaknya bervariasi: dari pusing kepala sampai gangguan syaraf.

HIDUP di bawah jaringan listrik tegangan tinggi ternyata tak cuma menegangkan. Anda juga berpotensi mengalami gangguan syaraf. Begitulah kesimpulan penelitian mutakhir yang digelar tim Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Universitas Airlangga (Unair). Laporan yang dirilis akhir bulan lalu di Surabaya menghidupkan kembali kontroversi tentang dampak radiasi elektromagnet dari jaringan itu atas kesehatan manusia. Dan, menjadi "senjata" baru bagi warga Desa Singosari yang memperkarakan Perusahaan Umum Listrik Negara (PLN) ke pengadilan, karena kawasan permukiman mereka dialiri jaringan tersebut.

Tim yang diketuai Direktur PPLH Dr. Fuad Amsyari melakukan penelitian di Desa Singosari, Kecamatan Kebomas, Gresik, Jawa Timur (Ja-Tim). Warga desa itu, sejak tahun 1989 lalu, telah memprotes dan memperkarakan kehadiran jaringan transmisi Saluran Udara…

Anwar Ibrahim: Malaysia Kini Seperti Indonesia Saat Reformasi

Pemimpin oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim, akhirnya menghirup udara bebas setelah mendapatkan pengampunan dari Raja Malaysia Yang di-Pertuan Agong Sultan Muhammad V, Rabu lalu. Hal ini menyusul kemenangan koalisi oposisi Pakatan Harapan dalam pemilu pada 9 Mei lalu, setelah mengalahkan Barisan Nasional yang sudah berkuasa 62 tahun. Pakatan memperoleh 113 kursi, Barisan 79 kursi, Partai Islam se-Malaysia 18 kursi, dan lainnya meraih sisanya. Pakatan mengusung Mahathir Mohamad sebagai perdana menteri ketujuh. Perdana menteri periode 1981-2003 ini pula yang pernah memenjarakannya. Anwar menyatakan masalahnya dengan Mahathir itu sudah selesai. "Biarkan dia memerintah dengan tenang," kata dia dalam wawancara khusus dengan wartawan Tempo, Abdul Manan, di rumahnya di Bukit Segambut, Kuala Lumpur, Malaysia, Sabtu lalu, tiga hari setelah pembebasannya dari penjara.

Yang "Kurang Pas" di Surabaya Post

Surabaya Post berhenti terbit akibat sengketa perburuhan. Toety Azis mengadukan lima karyawannya ke polisi, tetapi ada prospek damai.

BAGI masyarakat Surabaya, membaca Surabaya Post mungkin seperti kebiasaan minum kopi. Terasa ada yang "kurang pas" ketika koran sore satu-satunya di Surabaya itu tidak terbit lagi, sesudah "panutan" di edisi terakhir, 14 Maret. Masih banyak konsumen menanyakan, kapan koran kesayangannya terbit lagi atau kenapa tidak terbit.

"Saya tidak tahu masalahnya. Tapi banyak pembeli yang menanyakan," kata Suhadak, pengecer koran di Jalan Dharmahusada. Suhadak biasanya menjual Surabaya Post 20 eksemplar per, hari. Dengan harga agen Rp 750, ia menjual seharga Rp 1.000. Artinya, ia untung Rp 5.000 hanya dari penjualan Surabaya Post. Sejak koran itu berhenti terbit, penjualan Jawa Pos di kiosnya meningkat, dari 50 menjadi 60 eksemplar per hari.

Mohammad Arif, pedagang Koran eceran di Jalan Karang Menjangan; menyatakan, kini tujuh pelanggan S…