Skip to main content

Lithuania Opens Probe into 'CIA Prison'

Jakarta - Lithuanian prosecutors have opened an investigation into claims that a Saudi Arabian terror suspect was held in a CIA "black site" in the Baltic country, media reported on Thursday.

The opened case concerns the "possible illegal transportation of persons across the state border," prosecutors said, as quoted by AFP.
In October, Lithuania refused to probe accusations that Mustafa Hawsawi was imprisoned on its territory at one of the secret US Central Intelligence Agency (CIA) jails – known as "black sites" – between 2004 and 2006.

Prosecutors in Vilnius said that human rights groups which brought up Hawsawi's case had failed to provide any evidence of wrongdoing and that a previous investigation had ruled out claims that Al-Qaeda suspects were brought to the Baltic country.

But a high court ruled in January that prosecutors should ask authorities in the US for testimony from Hawsawi before making a final decision on whether to continue the case.

Human rights activists hailed the Thursday decision, saying that it could set an example for other countries facing allegations of hosting secret CIA jails – such as Bulgaria, the Czech Republic, Poland, and Romania.

"We certainly hope that it will serve as an example for other countries. And we trust that the investigation will be carried out to get to the bottom of these allegations," Sarah Fulton, a lawyer at Redress human rights organization, told AFP.

Rights groups behind Hawsawi's case claim their evidence is based on flight data, transfers of other suspects, and information about alleged CIA secret prisons in other countries.

Hawsawi is the second terror suspect to say that he was illegally held in Lithuania. Abu Zubaydah, an Al-Qaeda operative who is being held indefinitely at Guantanamo, has made the same claim.

AFP | ABDUL MANAN

TEMPO.CO | SUNDAY, 23 FEBRUARY, 2014 | 13:14 WIB

Comments

Popular posts from this blog

Tegang dan Depresi karena Sutet

Tim PPLH Unair membuktikan, SUTET berbahaya bagi kesehatan manusia. Dampaknya bervariasi: dari pusing kepala sampai gangguan syaraf.

HIDUP di bawah jaringan listrik tegangan tinggi ternyata tak cuma menegangkan. Anda juga berpotensi mengalami gangguan syaraf. Begitulah kesimpulan penelitian mutakhir yang digelar tim Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Universitas Airlangga (Unair). Laporan yang dirilis akhir bulan lalu di Surabaya menghidupkan kembali kontroversi tentang dampak radiasi elektromagnet dari jaringan itu atas kesehatan manusia. Dan, menjadi "senjata" baru bagi warga Desa Singosari yang memperkarakan Perusahaan Umum Listrik Negara (PLN) ke pengadilan, karena kawasan permukiman mereka dialiri jaringan tersebut.

Tim yang diketuai Direktur PPLH Dr. Fuad Amsyari melakukan penelitian di Desa Singosari, Kecamatan Kebomas, Gresik, Jawa Timur (Ja-Tim). Warga desa itu, sejak tahun 1989 lalu, telah memprotes dan memperkarakan kehadiran jaringan transmisi Saluran Udara…

Yang "Kurang Pas" di Surabaya Post

Surabaya Post berhenti terbit akibat sengketa perburuhan. Toety Azis mengadukan lima karyawannya ke polisi, tetapi ada prospek damai.

BAGI masyarakat Surabaya, membaca Surabaya Post mungkin seperti kebiasaan minum kopi. Terasa ada yang "kurang pas" ketika koran sore satu-satunya di Surabaya itu tidak terbit lagi, sesudah "panutan" di edisi terakhir, 14 Maret. Masih banyak konsumen menanyakan, kapan koran kesayangannya terbit lagi atau kenapa tidak terbit.

"Saya tidak tahu masalahnya. Tapi banyak pembeli yang menanyakan," kata Suhadak, pengecer koran di Jalan Dharmahusada. Suhadak biasanya menjual Surabaya Post 20 eksemplar per, hari. Dengan harga agen Rp 750, ia menjual seharga Rp 1.000. Artinya, ia untung Rp 5.000 hanya dari penjualan Surabaya Post. Sejak koran itu berhenti terbit, penjualan Jawa Pos di kiosnya meningkat, dari 50 menjadi 60 eksemplar per hari.

Mohammad Arif, pedagang Koran eceran di Jalan Karang Menjangan; menyatakan, kini tujuh pelanggan S…

Jreng-jreng-jreng, Lalu Masuk Bui

Pemerintah mengeluarkan peraturan baru tentang ketertiban kota. Semoga tak jadi macan ompong.

"SAUDARA-saudara, sebentar lagi saudara dilarang bersedekah kepada pengamen,” kata pria seusia anak SMA itu membuka percakapan sebelum melantunkan lagu untuk penumpang bus AC jurusan Rawamangun-Blok M. ”Tapi jangan cemas. Perdanya belum berlaku,” katanya tersenyum. Gitar pun dipetik dan lagu mengalun di tengah penumpang yang sesak.

Pengamen itu tak sedang berkelakar. Pada Senin pekan lalu, Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 2007 tentang Ketertiban Umum disahkan DPRD DKI Jakarta. Ini akan jadi momok baru tak hanya bagi pengamen, tapi juga gelandangan, pengemis, dan pedagang asongan. Tak cuma mereka yang bakal dihukum jika tetap bandel beroperasi di tempat umum, pemberi sumbangannya pun bakal kena semprit. Ganjarannya bervariasi: dari denda Rp 50 juta hingga enam bulan penjara.

Peraturan baru yang kini ramai jadi bahan obrolan ini merupakan revisi dari Peraturan Daerah Nomor 11 Tahun 1988. Diajuk…