Skip to main content

NSA: Snowden Bocorkan 200.000 Dokumen Rahasia

Washington - Badan intelijen Amerika Serikat, National Security Agency (NSA) menaksir ada sekitar 200.000 dokumen rahasia negara AS yang dibocorkan kepada media oleh eks analis lembaga ini, Edward Snowden. Pernyataan iini disampaikan Direktur NSA Jenderal Keith Alexander akhir bulan lalu.


Dalam sesi tanya-jawab setelah ceramah di depan sekelompok pemerhati urusan luar negeri di Baltimore, 31 Oktober 2013, Alexander ditanya ihwal langkah apa yang dilakukan pemerintah untuk menghentikan Snowden membocorkan informasi tambahan kepada wartawan.

"Saya berharap ada cara untuk mencegahnya. Snowden telah membagikan antara 50 dan 200.000 dokumen kepada wartawan. Ini akan terus keluar," kata Alexander.

Para penyelidik yang menangani kasus Snowden mengindikasikan bahwa jumlah dokumen yang bisa diakses Snowden mencapai ratusan ribu dokumen. Pejabat AS mengaku mengetahui berbagai dokumen yang bisa diakses Snowden, tapi mereka tetap tak yakin dokumen mana yang sudah dia unduh untuk dibocorkan ke media.

Sebagai perbandingan, jumlah dokumen Departemen Pertahanan dan Departemen Luar Negeri yang dibocorkan ke WikiLeaks oleh prajurit militer AS yang kesal jauh lebih besar. Wikileaks memperoleh sekitar 400.000 laporan Pentagon tentang perang Irak, serta 250.000 kabel diplomatik Departemen Luar Negeri dan puluhan ribu dokumen operasi AS di Afghanistan.

Tak satu pun dari bahan yang didapat WikiLeaks diklasifikasikan lebih tinggi dari "Rahasia ", sedangkan dokumen NSA yang dibocorkan Snowden banyak yang diberi label "Sangat Rahasia". Materi dari dokumen yang dibocorkan Snowden mencakup rincian sangat teknis ihwal kegiatan pengupingan yang dilakukan AS dan negara sekutunya.

Pengungkapan Snowden kepada media soal operasi rahasia badan intelijen AS, yang pertama kali muncul pada bulan Juni, masih menyebabkan sakit kepala bagi pemerintahan Presiden Barack Obama, khususnya dalam urusan dengan negara sekutunya. Misalnya, Jerman sangat marah dengan adanya laporan bahwa NSA memonitor telepon seluler Kanselir Jerman, Angela Merkel.

Matthew Olsen, Direktur Pusat Kontra-Terorisme Nasional di Kantor Direktur Intelijen Nasional AS, menyebut pembocoran oleh Snowden bersifat "sangat merusak." " Tidak ada keraguan bahwa pembocoran itu membuat tugas kami lebih berat. Kami telah melihat bahwa teroris atau musuh mempelajari cara-cara kami mengumpulkan informasi intelijen dan mereka berusaha untuk beradaptasi dan mengubah cara-cara mereka berkomunikasi, " katanya dalam sidang dengar pendapat dengan Kongres AS, Kamis, 14 November 2013.

Beberapa hari yang lalu, para pejabat AS mengatakan, sebuah panel yang berisi mantan pejabat dan pakar yang dibentuk oleh Obama untuk mengkaji operasi NSA telah melaporkan kesimpulan sementaranya ke Gedung Putih. Laporan akhir kelompok ini dijadwalkan akan kelar 15 Desember 2013.

Laporan tersebut, bersamaan dengan kajian terpisah yang dilakukan Gedung Putih, kemungkinan akan menyebabkan perubahan kebijakan yang hasilnya akan diumumkan akhir tahun ini.

Snowden saat ini ada di Rusia setelah mendapatkan suaka sementara selama satu tahun sejak Agustus lalu.

REUTERS | ABDUL MANAN

Comments

Popular posts from this blog

Tegang dan Depresi karena Sutet

Tim PPLH Unair membuktikan, SUTET berbahaya bagi kesehatan manusia. Dampaknya bervariasi: dari pusing kepala sampai gangguan syaraf.

HIDUP di bawah jaringan listrik tegangan tinggi ternyata tak cuma menegangkan. Anda juga berpotensi mengalami gangguan syaraf. Begitulah kesimpulan penelitian mutakhir yang digelar tim Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Universitas Airlangga (Unair). Laporan yang dirilis akhir bulan lalu di Surabaya menghidupkan kembali kontroversi tentang dampak radiasi elektromagnet dari jaringan itu atas kesehatan manusia. Dan, menjadi "senjata" baru bagi warga Desa Singosari yang memperkarakan Perusahaan Umum Listrik Negara (PLN) ke pengadilan, karena kawasan permukiman mereka dialiri jaringan tersebut.

Tim yang diketuai Direktur PPLH Dr. Fuad Amsyari melakukan penelitian di Desa Singosari, Kecamatan Kebomas, Gresik, Jawa Timur (Ja-Tim). Warga desa itu, sejak tahun 1989 lalu, telah memprotes dan memperkarakan kehadiran jaringan transmisi Saluran Udara…

Yang "Kurang Pas" di Surabaya Post

Surabaya Post berhenti terbit akibat sengketa perburuhan. Toety Azis mengadukan lima karyawannya ke polisi, tetapi ada prospek damai.

BAGI masyarakat Surabaya, membaca Surabaya Post mungkin seperti kebiasaan minum kopi. Terasa ada yang "kurang pas" ketika koran sore satu-satunya di Surabaya itu tidak terbit lagi, sesudah "panutan" di edisi terakhir, 14 Maret. Masih banyak konsumen menanyakan, kapan koran kesayangannya terbit lagi atau kenapa tidak terbit.

"Saya tidak tahu masalahnya. Tapi banyak pembeli yang menanyakan," kata Suhadak, pengecer koran di Jalan Dharmahusada. Suhadak biasanya menjual Surabaya Post 20 eksemplar per, hari. Dengan harga agen Rp 750, ia menjual seharga Rp 1.000. Artinya, ia untung Rp 5.000 hanya dari penjualan Surabaya Post. Sejak koran itu berhenti terbit, penjualan Jawa Pos di kiosnya meningkat, dari 50 menjadi 60 eksemplar per hari.

Mohammad Arif, pedagang Koran eceran di Jalan Karang Menjangan; menyatakan, kini tujuh pelanggan S…

Anwar Ibrahim: Malaysia Kini Seperti Indonesia Saat Reformasi

Pemimpin oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim, akhirnya menghirup udara bebas setelah mendapatkan pengampunan dari Raja Malaysia Yang di-Pertuan Agong Sultan Muhammad V, Rabu lalu. Hal ini menyusul kemenangan koalisi oposisi Pakatan Harapan dalam pemilu pada 9 Mei lalu, setelah mengalahkan Barisan Nasional yang sudah berkuasa 62 tahun. Pakatan memperoleh 113 kursi, Barisan 79 kursi, Partai Islam se-Malaysia 18 kursi, dan lainnya meraih sisanya. Pakatan mengusung Mahathir Mohamad sebagai perdana menteri ketujuh. Perdana menteri periode 1981-2003 ini pula yang pernah memenjarakannya. Anwar menyatakan masalahnya dengan Mahathir itu sudah selesai. "Biarkan dia memerintah dengan tenang," kata dia dalam wawancara khusus dengan wartawan Tempo, Abdul Manan, di rumahnya di Bukit Segambut, Kuala Lumpur, Malaysia, Sabtu lalu, tiga hari setelah pembebasannya dari penjara.