Saturday, August 24, 2013

Direktur FBI Khawatir AS Rentan Diserang Teroris

Washington - Setelah 12 tahun menjabat sebagai direktur Biro Penyelidik Federal (FBI) Amerika Serikat, Robert S. Mueller III mengatakan ia meninggalkan kantor dengan perasaan khawatir bahwa Amerika masih rentan terhadap "lone wolf" (teroris yang bertindak sendiri dan tak berafiliasi dengan organisasi internasional), dan serangan cyber yang menonaktifkan fasilitas penting yang dioperasikan dengan sistem komputer.
Mueller memimpin FBI 12 tahun lalu, tepatnya seminggu sebelum serangan teroris 11 September 2001. Kepada wartawan dalam wawancara perpisahan, 22 Agustus 2013 lalu, Muller mengatakan, ia sebenarnya berharap akan memimpin sebuah lembaga penegak hukum federal yang menyelidiki perampokan bank dan kejahatan lainnya.

Tapi, kenyataan berkata lain. Serangan yang kemudian dikenal sebagai peristiwa 9/11 itu mengubah FBI dan menjadikannya sebagai lembaga pengumpul intelijen yang terfokus pada terorisme. "Prioritas nomor 1 adalah untuk mencegah serangan teroris berikutnya," kata Muller.

Pria kelahiran New York, 7 August 1944 ini memimpim biro dengan manajemen tanpa kenal lelah. Ia memulai harinya dengan memberikan penjelasan singkat kepada stafnya setiap hari pada jam 7 pagi. Tapi dia juga harus menghadapi kenyataan bahwa lembaga ini kurang berfungsi dengan baik.

Pada akhir 1990-an, FBI terjerat sejumlah skandal, baik terungkapnya mata-mata di badan ini, dugaan upaya menutup-nutupi kasus baku tembak di kompleks Cabang Davidian di Waco, Texas, serta sejumlah masalah tingkat tinggi lainnya. Pengusutan yang dilakukan setelah terjadi peristiwa 9/11 juga menemukan bahwa ternyata FBI tidak memiliki kemampuan komputer untuk melacak laporan soal tersangka teroris di negeri ini.

Mueller mengatakan, ia bangun setiap pagi dengan kekhawatiran bahwa teroris dapat meledakkan pesawat terbang, atau mendapati mereka mendapatkan bahan kimia, senjata biologi atau nuklir yang bisa menimbulkan korban dalam jumlah massal.

Apa yang dikhawatirkannya memang hampir terjadi. Pada bulan Desember 2009, warga Nigeria yang naik pesawat Northwest Airlines menuju Detroit mencoba meledakkan bom yang disembunyikan di celana dalamnya, tetapi gagal meledak. Mei 2010, warga Pakistan-Amerika berusaha meledakkan sebuah bom mobil di Times Square di Manhattan. Sama seperti di Northwest, bom itu tak sampai meledak. "Kita beruntung mereka gagal," kata Mueller.

Ia juga mengakui kegagalannya menghentikan penembakan membabi buta yang menewaskan 13 orang di Ft. Hood di Texas pada November 2009, dan pemboman di Boston pada 15 April 2013 yang menewaskan tiga orang dan melukai lebih dari 150 lainnya.

"Itu adalah serangan yang tidak berhasil kami hentikan," katanya. "Jauh lebih sulit untuk mengidentifikasi dan menghancurkan plot oleh "lone wolf" yang tidak ada hubungan dengan kelompok teroris internasional."

Saat ia bersiap untuk mengalihkan tanggungjawabnya pada 4 September mendatang kepada James B. Comey, mantan pejabat Departemen Kehakiman, Mueller mengatakan dia semakin khawatir terhadap serangan besar di dunia cyber yang dapat melumpuhkan "sektor energi atau keuangan" dan mengacaukan perekonomian. Belasan tahun lalu, para ahli keamanan nasional hampir tidak menganggap ancaman komputer sebagai bahaya serius.

Berakhirnya masa tugas Mueller terjadi di tengah perdebatan sengit mengenai apakah National Security Agency (NSA) telah melanggar privasi warga Amerika dan kebebasan sipil karena diam-diam mengumpulkan catatan panggilan telepon domestik dan beberapa data internet. Mueller membela program itu dan mengatakan FBI mendapatkan manfaat jika pengintaian itu mengungkapkan ada aktivitas yang mencurigakan.

Mueller, 69 tahun, adalah sosol langka di Washington karena dihormati oleh Partai Republik dan Demokrat. Ia juga berusaha keras untuk menghindari sorotan. Dalam beberapa pekan terakhir, Presiden AS Barack Obama dan Jaksa Agung Eric H. Holder Jr dan ahli penegak hukum memujinya karena telah banyak mengubah FBI dan misinya.

Los Angeles Times | Abdul Manan

No comments: