Skip to main content

Inside Story Operasi AS untuk Membunuh Osama bin Laden

Ketegangan Amerika Serikat dan Pakistan saat ini tak bisa dilepaskan kaitannya dengan penyerbuan pasukan khusus Amerika Serikat, US Navy SEALs, ke Abbottabad, yang akhirnya menewaskan pemimpin Al Qaeda, Osama bin Laden, 2 Mei 2012 lalu. Pakistan tak bisa terima kedaulatannya diterabas meski oleh negara sekutu-nya itu. Mengapa Washington tak memberitahu Islamabad sebelum operasi mematikan itu? Majalah Time edisi 7 Mei 2012, menjawab pertanyaan itu.


Cover depan majalah Time yang berjudul The Last Days of Osama bin Laden itu ditulis oleh Peter Bergen dan Graham Allison. Dalam artikelnya, Allison mendeskripsikan cukup detail tentang kapan perintah perburuan terhadap Bin Laden diberikan hingga keputusan untuk melakukan penyerbuan.

Menurut Allison, perburuan terhadap Bin Laden mulai gencar dilakukan setelah Barack Obama menjadi presiden Amerika Serikat. Ini perintah pertama Obama kepada Direktur CIA Leon Panetta di tahun 2009 itu:  “Jadikan upaya pembunuhan atau penangkapan terhadap bin Ladin sebagai prioritas utama dalam perang melawan Al Qaeda.”

Empat belas bulan setelah mendapat perintah “Tangkap Bin Laden”, Panetta kembali ke Gedung Putih dengan  membawa kabar gembira. CIA menemukan perkampungan di timur laut Pakistan yang menjadi tempat tinggal kurir favorit Bin Ladin. Kepala Kontraterorisme Obama, John Brenan, yang menyebut perkampungan itu sebagai ‘benteng’ Bin Laden, letaknya di Abotabad, kota yang yang jaraknya ke ibu kota Pakistan sama seperti Baltimore ke Washington.

Dengan kabar bagus itu, Obama tak lantas menganggap langkah berikutnya akan mudah. Sejumlah keputusan penting yang ia hadapi dan harus diambil segera adalah: kapan harus beraksi? Siapa saja yang harus diajak serta dalam pengambilan keputusan itu? Bagaimana penangkapan terhadap Bin Laden akan dilakukan?

Pilihan waktu bertindak memang sangat krusial. Apalagi, Bin Laden bukan sasaran mudah. Sebab, perburuan AS terhadap Bin Laden setelah peristiwa serangan 11 September 2001 itu tak menunjukkan banyak kemajuan berarti. CIA, seperti dikatakan Panetta dalam laporan TIME itu, mengaku bahwa informasi terakhir yang diketahui dinas rahasia itu tentang keberadaan Bin Laden adalah lembah Tora Bora, Afganistan.

Soal daftar siapa saja yang akan diajak serta dalam pembahasan keputusan penting itu, nampaknya terkait dengan kerahasiaan operasi. Semakin banyak pihak yang terlibat, maka semakin besar peluang informasi itu bisa mengalir ke luar. Saat akhirnya Bin Laden ditembak di Abbottabad, tak butuh waktu lama sampai akhirnya informasi itu muncul di layar televisi.

Pertanyaan lain yang tak kalah krusial adalah bagaimana penangkapan itu akan dilakukan. Soal ini, Obama punya sejumlah pilihan: menggunakan pesawat Predator dengan misil Hellfire yang membawa 230-kg bom;  menggunakan pengebom B-2 dengan 9.000 kg bom berpenunjuk laser; mengirimkan pasukan khusus ke lokasi persembunyian itu; atau melakukan operasi militer gabungan dengan Pakistan.

Untuk mengambil keputusan penting itu, Obama meminta bantuan Thomas Donilon, yang menggantikan James Logan Jones sebagai Penasihat Keamanan Nasional-nya. Donilon diminta membuat sejumlah revisi substansial terhadap sejumlah opsi-opsi yang ada, serta mengatur proses pengambilan keputusannya, agar sesuai dengan keinginan Obama yang ingin melakukan kajian mendalam sebelum mengambil tindakan. Donilon menyebut tugasnya itu sebagai upaya “memaksimalkan opsi yang dimiliki Presiden.”

Saat Panetta memberitahu Obama pada 8 Oktober 2010 bahwa bahwa OBL –Osama bin Laden– ada di Pakistan, saat itu CIA belum yakin 100 persen bahwa memang musuh nomor 1 AS itulah yang ada di perkampungan di Abbottabad. Hingga dua bulan berselang, keyakinan Unit Kontra-terorisme CIA baru 60 persen. Obama lantas meminta Dinas melakukan semua upaya, tapi juga harus berhati-hati agar tak diketahui oleh sasarannya.

Ada sejumlah kekhawatiran bahwa upaya CIA untuk memperkuat keyakinannya soal identias buruannya itu juga bisa memicu alarm di pihak Bin Laden atau intelijen Pakistan.

AS bisa saja mengirim pesawat mata-mata untuk mendapatkan foto lebih baik tentang aktivitas di kompleks perumahan yang diduga didiami Bin Laden itu, tapi bagaimana kalau jatuh seperti yang dialami RQ-170 di Iran beberapa bulan lalu? Opsi alternatifnya adalah dengan melakukan pengintaian sekeliling untuk melakukan analisa di sekitar lokasi itu untuk mencari penanda genetik Bin Laden.

Salah satu pendeteksian identitas ini Bin Laden ini berhasil, tapi ternyata tercium Pakistan. Setelah operasi Abbottabad itu kelar, intelijen Pakistan akhirnya menangkap seorang dokter yang melakukan vaksinasi di daerah itu dengan harapan bisa mengambil DNA keluarga Bin Laden. Dokter yang ditangkap itu adalah Shakil Afridi, yang kemudian dihukum 33 tahun penjara dan membuat hubungan Islamabad-Washington kian memanas.

Dalam lebih kurang 40 ulasan intelijen selama Agustus 2010 sampai April 2011, pertanyaan lanjut yang dieksplorasi adalah bagaimana jika ternyata orang yang di kamp itu bukan Bin Laden. Selain itu, review itu juga akan menjawab sejumlah pertanyaan, seperti detail operasi, penilaian risiko jika informasinya bocor, serta apa yang akan dilakukan dengan mayat Bin Laden.

* * *

Dalam benak Obama, empat opsi untuk menangkap Bin Laden itu kemudian secara cepat mengerucut jadi tiga, dan kemudian tinggal dua. Ketika Obama mengkaji pertama kali opsi-opsi itu pada akhir Januari 2011, pilihan untuk melakukan operasi bersama Pakistan disingkirkan dengan cepat. Ini nampaknya dipengaruhi oleh penangkapan kontraktor CIA Raymond  Davis pada 27 Januari 2011 di Lahore karena tuduhan  pembunuhan. Insiden ini bagaikan peringatan kepada Gedung Putih bahwa Pakistan nampaknya tidak dapat menjadi partner meyakinkan untuk misi sensitif seperti yang akan dilakukan di Abbottabad ini.

Beberapa minggu kemudian, opsi serangan menggunakan Predator juga dimasukkan ke dalam laci. Ada tiga alasan Obama untuk tak memakai opsi ini. Pertama, dia ragu bom seberat 230 kg itu cukup memberi pukulan dan menggaransi terbunuhnya Bin Laden. Kedua, sejak Pakistan terlihat kurang mau bekerjasama,  bagaimana AS tahu bahwa pengeboman itu membunuh orang yang tepat? Jika Pakistan menuduh AS membunuh orang sipil tak bersalah dan Al Qaeda mengklaim Bin Laden masih hidup, bagaimana AS membuktikannya? Ketiga, penggunaan Predator menghilangkan kesempatan AS untuk menangkap saksi hidup dalam perkampungan itu yang mungkin saja berguna untuk mengakhiri Al Qaeda. Argumentasi itu pula yang digunakan Obama untuk menolak opsi pengeboman dengan B-2.

Dengan tersingkirnya tiga opsi itu, secara perlahan Obama tiba pada kesimpulan bahwa pilihan yang paling menjanjikan, meski juga berisiko tinggi, adalah dengan mengirimkan pasukan khususnya: US NAVY SEALs.

Sebelumnya Paneta mengasumsikan bahwa tim kecil CIA dan personel paramiliter Dinas Rahasia ini yang akan melakukan operasi penyerbuan itu. Namun setelah mempelajari opsi dan rencananya, Deputi Direktur Jenderal CIA Michael J. Morell menoleh ke Paneta dan mengatakan, “It’s time to call in the pros.” Bagi perwira karir CIA yang sudah loyal kepada Dinas, ini adalah kenyataan menyakitkan tapi merupakan pengakuan yang realistis. Morell tahu bahwa militer Amerika sudah mengembangkan kemampuan unik untuk operasi-operasi seperti ini.

Dengan mengerucutnya rencana itu, dengan persetujuan Gedung Putih, lingkaran penentu dalam operasi penangkapan Bin Laden ini ditambah dua, dengan memasukkan Komando Operasi Khusus Laksamana William H. McRaven dan Wakil Kepala Staf Gabungan James E. “Hoss” Cartwright. Sebelumnya, lingkaran ini hanya terdiri dari Obama, Donilon, Brennan, Deputi Penasihat Kemanan Nasional Denis McDonough, Penasihat Keamanan Wakil Presiden Tony Blinken dan Wakil Presiden Joe Biden, serta Paneta dan Morell.

Muncul pertanyaan, bagaimana jika Pakistan mengetahui gerakan Tim SEALs dan menyanderanya? Bagaimana jika helikopternya jatuh? McRavern memberi jawaban atas pertanyaan Obama yang disampaikan dalam pertemuan 19 April 2011. Kata McRavern, perencanaan operasi itu akan diperluas dengan melibatkan dua Boeing CH-47 Chinook tambahan yang membawa 24 pasukan khusus sebagai cadangan. Jika akhirnya mereka diketahui oleh militer Pakistan, mereka bisa menghadapinya dalam perjalanan menuju pulang.

Kabinet perang dalam anggota Komite Keamanan Nasional menggelar lima kali pertemuan dan lebih dari enam minggu untuk mengkaji semua opsi, sekali lagi. Obama juga mengundang kompetisi pendapat dan menguji lagi kesimpulan-kesimpulan yang sudah didapat dalam pertemuan sebelumnya. Hingga tahap ini, lingkaran orang-orang penentu ini makin sedikit. Menteri Pertahanan Robert Gates dan Menteri Luar Negeri Hillary Rodham Clinton juga harus datang sendiri, dan tak boleh ditemani deputi dan stafnya.

Kurang dari satu minggu sebelum hari penyerbuan, tepatnya 25 April 2011, file dari penjara Guantanamo yang dibocorkan oleh Wikileaks muncul di halaman depan New York Times. Salah satu dokumen yang diunggah ke internet, dan digunakan untuk berita New York Times itu adalah hasil interogasi di Penjara Guantanamo terhadap salah satu tahanan, yang kemudian dijadikan bahan CIA untuk mengenali kurir kepercayaan Bin Laden yang tinggal di Abbottabad. Pejabat gedung Putih kawatir informasi itu diketahui oleh pelindung Bin Laden, sehingga mungkin saja perkampungan itu kosong saat diserbu SEALs.

Pada pertemuan terakhir 28 April 2011, Obama menanyakan kepada penasihatnya apa yang ingin mereka lakukan terkait soal Bin Laden ini dan mengundang vote untuk peluncuran penyerbuan ke Abbottabad ini. Gates dan Biden memberi vote “tidak” untuk rencana penyerbuan. Tapi, Obama tetap pada opsi yang dipilihnya. Hari berikutnya, dalam pertemuan singkat di Ruang Resepsi Diplomatik di Gedung Putih, Obama  memberi perintah untuk menjalankan opsi yang dipilihnya. Kepada Donillon, Brenan, McDonough, dan Bill Daley, Obama mengatakan, “It’s a go.” McDonough adalah penasihat kebijakan luar negeri Obama, Bill Daley adalah Kepala Rumah Staf Gedung Putih.

Operasi yang diberi nama Neptune Spears itu pun mulai diaktifkan.

* * *

Pada 1 Mei 2011, kabinet perang Obama berkumpul di Situation Room, di Gedung Putih. Tim Keamanan Nasional Gedung Putih juga sudah membuat saluran komunikasi aman di sana, yang terhubung dengan McRavern, yang saat itu sudah berada di Jalalabad, Afganistan. Dalam saluran itu juga ada jalur komunikasi aman dengan Panetta di markas besar CIA di Langley serta pusat operasi di Kementerian Pertahanan, Pentagon. Pada pukul 2.05 pm, Panetta memberi gambaran sekali lagi tentang operasi ini.

Di Jalalabad, waktu itu jam menunjukkan pukyul 10.30 pm, di mana Tim US Navy SEALs, yang berisi 23 operator dan penerjemah, bersiap-siap untuk naik ke helikopter Black Hawk. Orang-orang itu membawa kartu kecil yang berisi foto dan deskripsi keluarga Bin Laden dan rombongan keluarga yang diperkirakan tinggal di perkampungan itu. Ikut bersama mereka adalah anjing petempur bernama Cairo, yang juga menggunakan rompi antipeluru seperti anggota tim SEALs lainnya.

Setengah jam kemudian, tepatnya jam 11 pm waktu setempat, dua helikopter Black Hawk meninggalkan landasan Jalalabad dan menuju timur perbatasan Afganistan dan Pakistan, yang mereka tempuh dalam waktu 15 menit. Helikopternya berjenis MH-60S, yang dimodifikasi sedemikian rupa agar tak terdeteksi radar Pakistan, yang sedang dalam ‘Mode Damai’, yang kesiagaannya berbeda dengan radar yang ditempatkan di perbatasannya dengan India.

Helikopter itu dicat dengan emulsi eksotis untuk membantunya menghindari pendeteksian, dan dimodifikasi agar produksi panasnya rendah selama penerbangan. Rotornya juga didesain sedemikian rupa agar tak terlalu berisik dan tak gampang dideteksi radar. Lebih dari semua itu, helikopter ini juga dekat ke tanah, yang artinya terbang sangat rendah dan sangat cepat –hanya beberapa meter dari permukaan tanah, terbang di sekitar pepohonan, serta menyusuri sungai dan lembah di kawasan pegunungan Hindu Kush. Setelah melewati perbatasan, helikopter berayun ke utara Peshawar. Total waktu penerbangan dari Jalalabad menuju target sekitar 1,5 jam, dengan jarak tempuh 250 km.

Pada 2 Mei 2012 dinihari, Black Hawk mendekati Abbottabad dari Barat Laut. Saat mencoba mendarat di halaman luas di perkampungan itu, tiba-tiba satu Black Hawk itu mengalami ‘lost altitude’. Berat tambahan dari ‘teknologi stealth’ (siluman) dan ketidaktepatan estimasi temperatur di Abbottabad mengurangi kemampuan helikopter itu, yang akhirnya membuat helikopter turun cepat dari ketinggian secara tak terduga. Karena sigap, tim SEAL bisa keluar dari burtung besi itu dengan selamat. Satu helikopter lainnya mendarat di atas atap rumah di perkampungan itu. Tim SEALs dari dua helikopter itu lantas masuk dalam perkampungan itu, yang kemudian berujung pada tewasnya Bin Laden.

Pelaksanaan operasi itu dipantau secara langsung dari belahan bumi yang lain, oleh Obama dan kabinet perangnya, dari Situation Room di Gedung Putih, melalui penginderaan jarak dekat oleh pesawat mata-mata yang melayang di atas Pakistan. Awal dan akhir operasi penyerbuan, otomatis diketahui seketika oleh Washington. Hanya setelah Black Hawk itu keluar dari udara Pakistan, pejabat Gedung Putih mulai menelpon sejumlah orang untuk memberitahu kabar ini sebelum akhirnya diumumkan kepada publik. Orang pertama yang ditelpon Obama soal kabar terbunuhnya Bin Laden ini adalah mantan presiden George Bush dan Bill Clinton.

Kapan akhirnya berita itu menyebar ke publik? Lima menit setelah pejabat Gedung Putih memberitahu Kongres dan satu jam sebelum Obama memberikan pengumuman resmi, berita penyerbuan dan terbunuhnya Bin Laden di Abbottabad itu muncul dalam acara breaking news kantor berita Cable News Network (CNN). | Abdul Manan

Comments

Popular posts from this blog

Tegang dan Depresi karena Sutet

Tim PPLH Unair membuktikan, SUTET berbahaya bagi kesehatan manusia. Dampaknya bervariasi: dari pusing kepala sampai gangguan syaraf.

HIDUP di bawah jaringan listrik tegangan tinggi ternyata tak cuma menegangkan. Anda juga berpotensi mengalami gangguan syaraf. Begitulah kesimpulan penelitian mutakhir yang digelar tim Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Universitas Airlangga (Unair). Laporan yang dirilis akhir bulan lalu di Surabaya menghidupkan kembali kontroversi tentang dampak radiasi elektromagnet dari jaringan itu atas kesehatan manusia. Dan, menjadi "senjata" baru bagi warga Desa Singosari yang memperkarakan Perusahaan Umum Listrik Negara (PLN) ke pengadilan, karena kawasan permukiman mereka dialiri jaringan tersebut.

Tim yang diketuai Direktur PPLH Dr. Fuad Amsyari melakukan penelitian di Desa Singosari, Kecamatan Kebomas, Gresik, Jawa Timur (Ja-Tim). Warga desa itu, sejak tahun 1989 lalu, telah memprotes dan memperkarakan kehadiran jaringan transmisi Saluran Udara…

Yang "Kurang Pas" di Surabaya Post

Surabaya Post berhenti terbit akibat sengketa perburuhan. Toety Azis mengadukan lima karyawannya ke polisi, tetapi ada prospek damai.

BAGI masyarakat Surabaya, membaca Surabaya Post mungkin seperti kebiasaan minum kopi. Terasa ada yang "kurang pas" ketika koran sore satu-satunya di Surabaya itu tidak terbit lagi, sesudah "panutan" di edisi terakhir, 14 Maret. Masih banyak konsumen menanyakan, kapan koran kesayangannya terbit lagi atau kenapa tidak terbit.

"Saya tidak tahu masalahnya. Tapi banyak pembeli yang menanyakan," kata Suhadak, pengecer koran di Jalan Dharmahusada. Suhadak biasanya menjual Surabaya Post 20 eksemplar per, hari. Dengan harga agen Rp 750, ia menjual seharga Rp 1.000. Artinya, ia untung Rp 5.000 hanya dari penjualan Surabaya Post. Sejak koran itu berhenti terbit, penjualan Jawa Pos di kiosnya meningkat, dari 50 menjadi 60 eksemplar per hari.

Mohammad Arif, pedagang Koran eceran di Jalan Karang Menjangan; menyatakan, kini tujuh pelanggan S…

Jreng-jreng-jreng, Lalu Masuk Bui

Pemerintah mengeluarkan peraturan baru tentang ketertiban kota. Semoga tak jadi macan ompong.

"SAUDARA-saudara, sebentar lagi saudara dilarang bersedekah kepada pengamen,” kata pria seusia anak SMA itu membuka percakapan sebelum melantunkan lagu untuk penumpang bus AC jurusan Rawamangun-Blok M. ”Tapi jangan cemas. Perdanya belum berlaku,” katanya tersenyum. Gitar pun dipetik dan lagu mengalun di tengah penumpang yang sesak.

Pengamen itu tak sedang berkelakar. Pada Senin pekan lalu, Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 2007 tentang Ketertiban Umum disahkan DPRD DKI Jakarta. Ini akan jadi momok baru tak hanya bagi pengamen, tapi juga gelandangan, pengemis, dan pedagang asongan. Tak cuma mereka yang bakal dihukum jika tetap bandel beroperasi di tempat umum, pemberi sumbangannya pun bakal kena semprit. Ganjarannya bervariasi: dari denda Rp 50 juta hingga enam bulan penjara.

Peraturan baru yang kini ramai jadi bahan obrolan ini merupakan revisi dari Peraturan Daerah Nomor 11 Tahun 1988. Diajuk…