Skip to main content

Membisniskan Gelap di Madura

Gelap-gulitanya Pulau Madura akibat putusnya aliran listrik justru mendatangkan peluang bisnis baru bagi sebagian warga.

PADAMNYA listrik di seluruh Madura akibat putusnya kabel listrik dasar laut Surabaya-Madura ternyata tidak cuma mengganggu kehidupan ekonomi di pulau penghasil garam itu. Gelapnya Madura bagi sebagian orang malah menjadi berkah. Khudori, misalnya, panen rezeki. Lelaki asal Bangkalan yang semula berprofesi sebagai pedagang kaset ini langsung alih profesi jadi penjual lampu minyak.

Karena putusnya aliran listrik, tiap penduduk memang butuh penerangan altematif. Tak mengherankan jika Khudori tiba-tiba saja punya ide untuk menjual lampu teplok. Kios kaset miliknya terpaksa diistirahatkan sejenak. Alasannya sederhana: pembeli tak dapat mencoba kaset yang diminati selama listrik mati.

Karena meningkatnya permintaan, harga lampu minyak ikut melonjak dan kenaikan harga pun dinikmati Khudori. Naiknya tak tanggung-tanggung, dua sampai tiga kali lipat. Untuk lampu ukuran kecil, yang harganya Rp 1.800 berubah jadi Rp 3.000 sampai Rp 5.000 per buah. Yang ukuran besar dari Rp 2.500 melonjak sampai Rp 7.500. Malah, ada yang menjual sampai Rp. 10.000 per buah.

Soal untung? Jangan ditanya. Khudori pernah untung Rp 150.000 sehari. Pasalnya, enam lusin lampu teplok yang dibeli dari Surabaya langsung ludes terjual dalam sehari. Padahal, selama sepuluh tahun menjual kaset, untungnya rata-rata Rp 10.000 sehari. "Paling banyak Rp 15.000 per hari," katanya.

Makin banyak lampu minyak terjual makin banyak pula kebutuhan akan minyak tanah. Buntutnya, harga minyak tanah di beberapa tempat ikut membubung. Di Desa Dharmatanjung, Kecamatan Camplong, Bangkalan, harga satu liter minyak tanah mencapai Rp 500 sampai Rp 1.000. Warga pun sempat resah. Persoalannya, selama lampu padam, otomatis minyak tanah menjadi satu-satunya bahan bakar.

Tak mengherankan jika antrean panjang sempat terjadi di Jalan K.H. Moh. Kholil, Bangkalan. Ceritanya, warga sengaja membeli minyak tanah langsung dari mobil tangki Pertamina yang sedang mengisi drum di toko dan kios pengecer. "Ternyata, harganya cuma Rp 350 per liter kalau langsung dari Pertamina," kata seorang pembeli sambil membawa jeriken yang penuh berisi minyak tanah.

Tak hanya Khudori yang mengail untung di tengah kegelapan ini. Pedagang lilin dan lampu gas ikut ketiban rezeki. Di hari pertama padamnya lampu, 19 Februari lalu, warga berebut membeli lilin. Kontan, harga lilin yang asalnya Rp 1.000 per batang merangkak mencapai Rp 2.500 per batang.

Cuma, lama-kelamaan, warga lebih memilih lampu minyak. Dari segi ekonomi, pilihan tersebut bisa dipahami. Paling banter sebatang lilin hanya mampu menyala selama beberapa jam, sementara lampu minyak dapat bertahan semalam suntuk. Jadi. dengan menggunakan lampu minyak, warga bisa lebih menghemat pengeluaran.

* Sewa Generator Keliling

Masalah yang dihadapi warga, yang sekaligus juga mendatangkan rezeki bagi sebagian yang lain, adalah langkanya air bersih. Perusahaan daerah air minum cuma mampu memasok air sampai minggu lalu. Itu pun untuk instansi tertentu, dengan cara bergilir. Akibatnya, warga terpaksa menyewa generator. Tapi, alternatif itu hanya mungkin bagi warga yang memiliki uang lebih.

Bagaimanapun para pemilik generator di Bangkalan memanfaatkan peluang tersebut. Mereka menyewakan generator, untuk menjalankan pompa listrik, dengan tarif Rp 5.000 setiap jam. Maka, tidak aneh bila mobil bermuatan generator berkeliling ke rumah-rumah penduduk, menawarkan jasa.

Yang juga muncul adalah jasa pengangkut air. Seorang ibu bercerita, sejak padamnya listrik, saudaranya langsung berhenti bekerja sebagai tukang becak dan menjadi pengangkut air. Untuk bak kamar mandi suatu rumah tangga, tarifnya sekitar Rp 25.000.

Sulaiman lain lagi. Pemilik toko elektronik di Bangkalan ini mengaku, selama lampu padam, radio transistor dagangannya lumayanlaku dengan harga per unit Rp 37.000 sampai Rp. 75.000 sedangkan pesawat televisi tak satupun yang berminat. "Orang tak bisa mengetes televisi itu hidup atau tidak (akibat listrik mati).' " kata Sulaiman kepada D&R.

Padamnya listrik rupanya telah menumbuhkan banyak wiraswastawan lokal kagetan, yang betul-betul "membisniskan kegelapan" di Madura. Siapa sangka?

Puji Sumedi H/Laporan Abdul Manan (Surabaya)

D&R Edisi 990308-030/Hal. 69 Rubrik Daerah

Comments

Popular posts from this blog

Tegang dan Depresi karena Sutet

Tim PPLH Unair membuktikan, SUTET berbahaya bagi kesehatan manusia. Dampaknya bervariasi: dari pusing kepala sampai gangguan syaraf.

HIDUP di bawah jaringan listrik tegangan tinggi ternyata tak cuma menegangkan. Anda juga berpotensi mengalami gangguan syaraf. Begitulah kesimpulan penelitian mutakhir yang digelar tim Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Universitas Airlangga (Unair). Laporan yang dirilis akhir bulan lalu di Surabaya menghidupkan kembali kontroversi tentang dampak radiasi elektromagnet dari jaringan itu atas kesehatan manusia. Dan, menjadi "senjata" baru bagi warga Desa Singosari yang memperkarakan Perusahaan Umum Listrik Negara (PLN) ke pengadilan, karena kawasan permukiman mereka dialiri jaringan tersebut.

Tim yang diketuai Direktur PPLH Dr. Fuad Amsyari melakukan penelitian di Desa Singosari, Kecamatan Kebomas, Gresik, Jawa Timur (Ja-Tim). Warga desa itu, sejak tahun 1989 lalu, telah memprotes dan memperkarakan kehadiran jaringan transmisi Saluran Udara…

Anwar Ibrahim: Malaysia Kini Seperti Indonesia Saat Reformasi

Pemimpin oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim, akhirnya menghirup udara bebas setelah mendapatkan pengampunan dari Raja Malaysia Yang di-Pertuan Agong Sultan Muhammad V, Rabu lalu. Hal ini menyusul kemenangan koalisi oposisi Pakatan Harapan dalam pemilu pada 9 Mei lalu, setelah mengalahkan Barisan Nasional yang sudah berkuasa 62 tahun. Pakatan memperoleh 113 kursi, Barisan 79 kursi, Partai Islam se-Malaysia 18 kursi, dan lainnya meraih sisanya. Pakatan mengusung Mahathir Mohamad sebagai perdana menteri ketujuh. Perdana menteri periode 1981-2003 ini pula yang pernah memenjarakannya. Anwar menyatakan masalahnya dengan Mahathir itu sudah selesai. "Biarkan dia memerintah dengan tenang," kata dia dalam wawancara khusus dengan wartawan Tempo, Abdul Manan, di rumahnya di Bukit Segambut, Kuala Lumpur, Malaysia, Sabtu lalu, tiga hari setelah pembebasannya dari penjara.

Yang "Kurang Pas" di Surabaya Post

Surabaya Post berhenti terbit akibat sengketa perburuhan. Toety Azis mengadukan lima karyawannya ke polisi, tetapi ada prospek damai.

BAGI masyarakat Surabaya, membaca Surabaya Post mungkin seperti kebiasaan minum kopi. Terasa ada yang "kurang pas" ketika koran sore satu-satunya di Surabaya itu tidak terbit lagi, sesudah "panutan" di edisi terakhir, 14 Maret. Masih banyak konsumen menanyakan, kapan koran kesayangannya terbit lagi atau kenapa tidak terbit.

"Saya tidak tahu masalahnya. Tapi banyak pembeli yang menanyakan," kata Suhadak, pengecer koran di Jalan Dharmahusada. Suhadak biasanya menjual Surabaya Post 20 eksemplar per, hari. Dengan harga agen Rp 750, ia menjual seharga Rp 1.000. Artinya, ia untung Rp 5.000 hanya dari penjualan Surabaya Post. Sejak koran itu berhenti terbit, penjualan Jawa Pos di kiosnya meningkat, dari 50 menjadi 60 eksemplar per hari.

Mohammad Arif, pedagang Koran eceran di Jalan Karang Menjangan; menyatakan, kini tujuh pelanggan S…